Kanal

Melawan Balita Stunting, Ini Langkah yang Dilakukan Pemkab HSU

Pengelola Bina Keluarga Balita (BKB) diberi informasi bagaimana cara mengetahui ciri fisik anak yang berpotensi mengalami stunting, Kamis (28/06/2018). - banjarmasinpost.co.id

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI – Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) terus berupaya menurunkan angka stunting.

Saat ini Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana (DPPKB) juga telah memiliki aplikasi untuk memantau jumlah serta perkembangan jumlah angka stunting di seluruh desa.

Selain melakukan pengentasan stunting, di setiap Puskesmas juga diminta untuk melakukan tindakan pencegahan stunting.

Untuk itu DPPKB mengundang seluruh ketua BKB untuk mengikuti penyuluhan di Kantor DPPKB, para pengelola Bina Keluarga Balita (BKB) diberi informasi bagaimana cara mengetahui ciri fisik anak yang berpotensi mengalami stunting, Kamis (28/06/2018).

Selain dari berat badan dan kondisi fisik lain juga bisa diketahui melalui kemampuan dalam berbicara maupun berinteraksi dengan oranglain. Pencegahan stunting juga dilakukan dengan terus memberikan makanan yang bergizi seimbang kepada anak.

“Makanan yang diberikan kepada anak tidak yang penting banyak dan kenyang, tapi juga diberikan makanan yang bervariasi dan lengkap seperti sayuran, lauk dan buah,” ujar Kepala DPPKB Anisah Rasyidah Wahid.

Kepala BKB Desa Simpang empat Kecamatan Amuntai Selatan Rina mengatakan untuk mengentaskan atau mengurangi angka stunting memang perlu kerja keras dan dukungan dari masyarakat, dan dirinya menyambut baik dengan adanya penyuluhan yang dilakukan oleh DPPKB ini.

Seperti yang dialaminya selama ini, di Desa Simpang Empat juga memiliki anak yang positif stunting namun pihaknya terus berupaya untuk menguranginya dengan cara membagi anak dalam beberapa kelompok.

Setiap anak dikelompokkan sesuai usia mulai dari 0 hingga lima tahun dimana tiap usia tahunnya dikelompokkan menjadi satu kelompok. “Jadi ada lima kelompok dan disetiap kelompok memiliki satu kader sehingga lebih fokus dalam mengamati tumbuh kembang setiap anak,” ujarnya.

Setiap kegiatan posyandu diperiksa tumbuh kembang anak dan perkembangannya dimasukkan dalam buku konseling yang telah tersedia.

Misalnya bayi yang berusia delapan tahun seharusnya sudah bias duduk. Jika ada anak yang tumbuh kembangnya tidak sesuai dengan usia maka akan diberikan konseling dan melakukan beberapa pelatihan rutin untuk memancing motorik anak.

“Konseling dan pelatihan dilakukan selama dua bulan, jika dua bulan tidak ada perkembangan maka dirujuk ke bidan atau Puskesmas, biasanya kasusnya adalah adanya permasalahan gizi anak dan dan kurangnya stimulasi,” ungkapnya.

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluraga Bencana (DPPKB) HSU juga telah memiliki aplikasi untuk memantau jumlah serta perkembangan jumlah angka stunting di seluruh desa. (banjarmasinpost.co.id)

Anak yang terbukti kekurangan gizi akan diberikan makanan tambahan, sebagian anak yang kekurangan gizi memang berasal dari keluarga kurang mampu namun ada juga karena kurangnya pengetahuan dari orangtua.

Tidak memberikan makanan sehat kepada anak dengan alasan anak yang tidak suka, padahal jika anak terbiasa diberi makanan hanya disenangi tanpa memperhatikan kandungan gizi akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasannya.

Untuk mengatasi anak yang sulit makan makanan sehat seperti sayur dan ikan BKB juga memiliki kegiatan demo masak baik makanan sehat, cemilan dan makanan olahan berbahan dasar ikan. Dengan pengolahan makanan yang berbagai macam dapat meningkatkan nafsu makan anak. TNI juga bisa memberikan makanan tambahan dalam bentuk biskuit.

“Pada tahun 2017 jumlah stunting di Desa Simpang Empat ada 21 anak dan saat ini menjadi 12 anak, dan kami masih akan terus melakukan perbaikan gizi dan tumbuh kembang anak agar bisa terbebas dari stunting,” ungkapnya. (aol)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Royan Naimi
Sumber: Banjarmasin Post

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer