Kanal

Lucu Itu Perlu

Mujiburrahman -

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari

JOHN Tralala, sang maestro lawak dan madihin telah meninggal dunia, Selasa, 26 Juni 2018 lalu pada usia 59 tahun. Nama aslinya adalah Muhammad Yuseran. John Tralala adalah ‘nama panggung’ yang diberikan oleh gurunya sewaktu SMA, sebagai plesetan dari nama bintang Hollywood, John Travolta. Apa kiranya yang paling dikenang dari tokoh ini? Saya kira kita sepakat: kelucuannya.

Secara pribadi, saya tidak begitu dekat dengan John Tralala, namun saya pernah dua atau tiga kali mengisi siaran Ramadan di TVRI Kalsel yang diasuh oleh Ibrahim Audah bersama beliau. Di acara itu, John membawa terbang yang biasa digunakannya untuk bermain seni tutur Banjar, madihin. Selain menabuh terbang, John berperan sebagai penyisip lelucon dan komentar kocak yang mengundang tawa.

Mungkin, ide mengikutsertakan John dalam siaran keagamaan itu datang dari Ibrahim Audah, yang menginginkan agar acara tidak membosankan. Bagi banyak orang, ceramah apapun, termasuk ceramah agama, jika tidak diselingi humor-humor segar, akan terasa hambar. John memang dikenal sebagai pelawak dan terutama berhasil menggunakan seni tradisional Banjar, madihin, sebagai mediumnya.

Menurut Ahmad Sya’rani, seniman madihin yang menulis tesis tentang madihin di Pascasarjana UIN Antasari, istilah ‘madihin’ berasal dari kata Banjar ‘padah’ ‘mamadahi’, artinya menasihati. Mungkin pula berasal dari bahasa Arab-Melayu, madah yang artinya pujian. Memang, syair-syair madihin biasanya mengandung nasihat untuk hadirin, atau pujian kepada penguasa yang mengadakan pertunjukan itu.

Namun, dalam perkembangan belakangan, unsur kocaklah yang tampak paling menarik dari madihin. Jika ditimbang-timbang, dari tiga unsur (nasihat, pujian dan lelucon) itu, yang terakhir seringkali lebih menonjol. Hal ini dapat dimaklumi karena madihin memang seni hiburan. Tentu saja, hiburan yang ideal adalah gabungan antara tuntunan dan tontonan, nasihat dan lelucon, dan madihin berpotensi untuk itu.

Jelas, kesenian yang menghibur sekaligus mendidik itu sulit karena menuntut kepiawaian, pengetahuan dan pengalaman. Seorang seniman madihin, selain harus pandai mengolah kata dan berimprovisasi sesuai tuntutan situasi, juga harus mengerti cara membuat lelucon. Jika penonton yang hadir bukan hanya orang Banjar, syair-syair yang dituturkan harus diubah dari bahasa Banjar ke bahasa Indonesia.

Sebenarnya seorang pembicara publik seperti penceramah agama juga dituntut memiliki kepandaian yang serupa dengan seniman. Memang ada penceramah yang serius tanpa lelucon tetapi tetap menarik. Namun, umumnya penceramah yang digemari adalah yang pandai menyisipkan humor. Bahkan ilmuwan yang berbicara dalam seminar dan konferensi juga akan lebih disukai jika pandai menyelipkan lelucon.

Hanya saja, menciptakan sesuatu yang lucu itu tidak mudah. Ada orang yang memang sama sekali tidak berbakat melucu. Jika dia mencoba melucu, orang bukannya tertawa karena leluconnya, tetapi justru karena kegagalannya untuk menjadi lucu. Ada pula orang yang ketika mau menceritakan sebuah cerita lucu, dia sudah tertawa duluan sebelum ceritanya disampaikan. Akhirnya, orang-orang pun jadi bingung.

Masalahnya menjadi makin rumit ketika orang melakukan apapun asal lucu. Hal ini bisa saja dilakukan oleh pelawak atau penceramah agama. Misalnya, melucu dengan menghina fisik orang, menyinggung hal-hal yang berbau SARA hingga yang bersifat ‘pornografis’. Di sini, lelucon menjadi tujuan itu sendiri, bukan sarana untuk mencapai tujuan yang lebih agung. Lelucon semacam ini bisa berbuah petaka.
Selain itu, bobot antara hiburan dan nasihat juga perlu dicermati. Jika seorang seniman madihin tampil dengan bobot lelucon yang lebih banyak daripada pesan moralnya, orang tentu maklum. Fungsi seniman memang terutama menghibur hadirin, baru menyampaikan pesal moral. Namun, jika penceramah agama melawak terus-terusan, dia mungkin lebih baik alih profesi dari ustadz menjadi pelawak.

Di sisi lain, hidup di dunia ini, apalagi di zaman sekarang, memang penuh dengan beban dan ketegangan. Kita perlu peregangan dan penyegaran. Lelucon adalah sarana yang efektif untuk menertawakan hidup sambil menerima kenyataan sepahit apapun. Lelucon adalah jendela tak terduga yang dibukakan kepada kita untuk melihat hidup dari sudut yang bercahaya sambil melupakan ruang gelap di hati kita.

Alhasil, kita kehilangan sosok penghibur nan lucu, John Tralala. Semoga semakin banyak penggantinya. Lucu itu perlu, asal sesuai kadarnya. Tertawa itu perlu, asal tidak berlebihan seperti orang gila!


Editor: Murhan
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

5 ABG Digerebek Hendak Gelar Pesta Seks di Makassar, 3 Gadis Masih di Bawah Umur

Berita Populer