Kanal

Lokal-Global Bahasa Arab

Mujiburrahman - bpost dok

Oleh : Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Alkisah, seorang pria Banjar ingin membeli sesuatu kepada pedagang Arab. Untuk menentukan harga, si Arab menunjukkan sepuluh jari yang dibalas si Banjar yang menawar dengan tiga jari. Si Arab enggan dan si Banjar ngotot. Akhirnya si Arab marah. Si Banjar pun berteriak, “Li’îlâ fi quraisyin!” Si Banjar sebenarnya ingin mengatakan: kamu rupanya keturunan Quraisyh yang dulu memusuhi Nabi.

Menurut statistik, hampir semua orang Banjar (99,55 persen), beragama Islam. Islam dan Bahasa Arab memang berbeda, tapi tidak terpisah. Mayoritas orang Banjar tidak pandai berbahasa Arab, tapi mereka mengenal sejumlah kata dan kalimat Arab. Sejak kecil, mereka belajar membaca (melafalkan) Alqur’an, meskipun tidak mengerti maknanya. Mereka juga salat dan berdoa dalam bahasa Arab.

Kasus orang Banjar di atas sebenarnya tidaklah unik. Aneka etnis di Nusantara yang beragama Islam juga demikian. Mereka menyerap bahasa Arab dan belajar membaca aksara Arab, khususnya Alquran. Tentu ada pula di antara mereka yang mendalami bahasa Arab hingga bisa membaca kitab-kitab yang tanpa harakat (gundul). Sebagian lagi ada juga yang mampu berbicara bahkan menulis dalam bahasa Arab.

Tak syak lagi, para ulamalah yang mula-mula memperkenalkan bahasa Arab di Nusantara. Mereka mengajarkan cara membaca Alqu’an, bacaan salat dan doa-doa. Mereka juga menggunakan huruf Arab dengan sedikit modifikasi, sebagai huruf yang digunakan untuk bahasa Melayu, yang disebut Arab-Melayu atau Jawi. Sejak abad ke-17 atau lebih awal lagi, huruf ini telah digunakan oleh ulama Nusantara.

Meskipun setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia dan Malaysia memilih huruf Latin, penggunaan huruf Jawi tidaklah mati. Pengajian di majelis taklim masih banyak yang menggunakan kitab karangan Muhammad Arsyad al-Banjari, Abd al-Shamad al-Palimbani, Nur al-Din al-Raniri dan lain-lain. Bahkan, sampai di abad ke-21 ini, masih cukup banyak ulama yang menulis kitab keagamaan dalam huruf Jawi.

Sejak awal abad ini, (alm) Mujahid melalui Toko Buku Sahabat miliknya di Kandangan, menerjemahkan kitab-kitab Arab ke Bahasa Indonesia, dan terjemahan itu ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Ternyata, terjemahannya itu laku, tidak hanya di Kalimantan, tetapi juga di Jawa, Sumatra, Malaysia dan Thailand. Ini membuktikan bahwa Arab-Melayu masih aktif digunakan, khususnya dalam pengkajian Islam.

Karena hubungan antara bahasa Melayu dan bahasa Arab itu sangat dekat, maka tidak mengherankan jika banyak kata-kata dalam bahasa Melayu dan Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab. Nurcholish Madjid pernah mengingatkan bahwa sejumlah kosa kata politik di Indonesia jelas berasal dari bahasa Arab seperti adil, makmur, musyawarah, mufakat, majelis, dewan, wakil, rakyat, dan seterusnya.

Di sisi lain, melihat Bahasa Arab hanya sekadar bahasa Islam jelas akan mempersempit sudut pandang kita. Bahasa Arab adalah salah satu bahasa peradaban umat manusia yang penuturnya tidak hanya kaum Muslim. Bahasa ini tak syak lagi memiliki keindahan yang sulit diterjemahkan, dan telah digunakan untuk pengembangan seni, sains dan teknologi baik oleh kaum Muslim ataupun Yahudi, Kristen dan lain-lain.

Sebenarnya, bukan hanya bahasa Melayu dan Indonesia, bahasa Persia, Turki, Urdu, Kurdi dan lain-lain yang merupakan bahasa kaum Muslim, telah dipengaruhi oleh bahasa Arab. Di sini, bahasa Arab tidak menghapus tetapi memperkaya bahasa-bahasa itu. Di sisi lain, hal serupa sebenarnya juga dialami oleh bahasa Arab sendiri, yang mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh bahasa-bahasa lain di dunia.

Hingga kini, bahasa Arab terus berkembang melalui media cetak dan elektronik serta karya-karya para sastrawan dan ilmuwan modern. Para santri yang hanya membaca kitab-kitab klasik tentu akan kesulitan memahami banyak kosa kata baru dalam tulisan-tulisan modern itu. Karena itulah, pembelajaran bahasa Arab di pesantren dan perguruan tinggi perlu sekali memperkenalkan bahasa Arab kontemporer.

Alhasil, inilah watak peradaban. Ada proses saling belajar dan pengaruh mempengaruhi. Ada interaksi antara yang lokal dan global, antara yang dari dalam dan luar, bahkan antara yang sakral dan profan. Dengan kesadaran ini, maka tidak ada sesungguhnya bahasa yang benar-benar eksklusif. (*)

Editor: Murhan
Sumber: Banjarmasin Post

Video Detik-detik King Kobra Ditangkap Kurir JNE di Perumahan, Warga Mengaku Lihat Ada 6 Ekor Ular

Berita Populer