Kanal

Inhana

KH Husin Naparin - banjarmasinpost.co.id/rahmadhani

Oleh: KH HUSIN NAPARIN
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

DIBERITAKAN, Perdana Menteri Inggris, Theresa May, bersalaman dengan YM Duke of Cambridge, Pangeran William, dalam suatu acara di Pusat Rehabilitasi dan Pertahanan Nasional di Nottinghamshire, Inggris, (Kamis 21/6/2018) posisi badan membungkuk rendah dan tumit dinaikkan sedikit.

Sang PM juga bersikap sama ketika bertemu Ratu Elizabith II dan istri Pangeran William, Duchess of Cambridge. Hal ini mendapat kecaman pedas dari seorang jurnalis Amerika Serikat, Glenn Greenwald, bahwa sikap itu berlebihan, memalukan, menggambarkan seperti budak feodal.

Bahkan setelah foto sang PM tersebut tersebar di medsos Inggris, berbagai komentar negatif dari netizen berdatangan. Jubir keluarga kerajaan pun angkat bicara, bahwa sikap membungkuk di depan seorang anggota keluarga adalah suatu bentuk kesopanan yang umum dilakukan dan merupakan pilihan pribadi setiap individu. (BPost, 24/6/2018, inter-nas, hal 9).

Sikap membungkukkan badan ketika bertemu dengan orang lain ini, dalam bahasa Arab dikatakan inhana. Penulis teringat hal yang sama, ketika kesempatan umrah Ramadan yang lalu bersama PT Kaltrabu Indah.
Di Makkah, aku diinapkan di hotel Safwah Orched berseberangan Masjid Al-Haram. Satu lantai di hotel itu, dijadikan tempat salat berjamaah. Suatu hari aku ikut salat Zuhur berjemaah di situ bersama anakku, yang keluaran sebuah pondok pesantren. Usai salat, sang imam, seorang Syekh bertitel dokter, keluaran Riyadh, masih muda, menyampaikan tausiyah.

Usai ceramah, jemaah pun bersalaman dengan beliau. Aku dan anakku juga ikut bersalaman. Sewaktu bersalaman dengan beliau, anakku membungkukkan badan seperti yang biasa dilakukan para santri di pondok untuk menghormati para ustadz. Syekh pun dengan keras menegur, laa, laa, haram, membungkuk hanya kepada Allah, tidak boleh kepada sesama manusia.

Anakku pucat ketakutan. Lalu aku terangkan kepada tuan Syekh itu, bahwa apa yang dilakukan anakku itu biasa dilakukan di Indonesia, lebih-lebih para santri untuk menghormati para ulama dan ustadz.

Syekh tersebut dengan nyaring berkata lagi, “itu salah, tidak boleh, seandainya manusia boleh sujud kepada sesama manusia, maka Rasul akan memerintahkan seorang perempuan untuk sujud kepada suaminya.”
Aku pun bertanya; Bagaimana syekh tentang malaikat yang diperintahkan sujud kepada Adam AS, kan dibolehkan untuk menghormati orang berilmu. Sujud tahiyyah dibenarkan, yang tidak dibolehkan adalah sujud ibadah, jadi sangat tergantung kepada niat, anak saya tunduk bersalaman menundukkan badan untuk menghormati tuan, karena tuan orang berilmu.”

Beliau tetap merasa benar dan orang lain salah, bahkan tidak menggubris paparan penulis, lalu mengalihkan persoalan dengan pertanyaan, “Siapa Anda, bahasa Arab Anda bagus, dimana belajar? ”
Aku hanya menjawab, bahwa aku seorang jemaah umrah dan pernah belajar bahasa Arab. Perbicangan pun bubar. Sikap seperti inilah yang kita rasakan di negeri kita. Ada segelintir anak banua belajar di Saudi, membawa ilmu; berkauk-kauk, terjang sini dan sepak sana, bid’ah dan bid’ah.

Mertua penulis, KH Muhammad Hanafi Gobit (alm), puluhan tahun belajar di Makkah, tidak membawa paham aneh-aneh ke banua. Beliau pernah menegur seorang muridnya yang keluaran Saudi, ngaji lagi nakai, maksudnya belajar kembali, karena yang bersangkutan membid’ahkan sejumlah amaliyah di kampung.

Guru penulis Dr KH Muhammad Saberan Effendy, di Amuntai, ahli hadits; sahabat penulis di Jakarta, Dr KH Mustafa Ya’kub MA (alm) ahli hadits; dan al-akh fillah KH Imansyah Lc, pimpinan PP As-Sunniyyah di Tambarangan, Rantau, semuanya alumni Saudi, mereka tetap memelihara ahlussunnah wal-jama’ah. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Video Mesumnya Diputar di Kelas dan Tersebar, Siswi Berprestasi di Karawang Terpaksa Pindah Sekolah

Berita Populer