Kanal

Menyoal Kontribusi untuk Pendidikan (Anak) Kita

Selain diajarkan pelatihan kepemimpinan dan kedisiplinan, anak-anak Sekolah Dasar (SD) Kanaan juga diajak bermain atau games, Jumat (17/3/2017) pagi. - Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fajeri Haika

Oleh: MUH FAJARUDDIN ATSNAN MPD, Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

PERKAWINAN dini, pelecehan seksual, pornografi, gizi buruk, hingga eksploitasi anak dan tingginya angka putus sekolah, masih menjadi isu serius perihal belum maksimalnya perlindungan dan pemenuhan hak-hak asasi anak Indonesia. Sebab musabab belum tuntasnya problematika anak-anak di Indonesia adalah kurang maksimalnya kontribusi dari tripusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan sikap peduli masyarakat terhadap generasi penerus kita.

Memang benar, jika kemudian masalah ekonomi senantiasa dijadikan dalih untuk membenarkan tingginya anak putus sekolah atau kurangnya gizi atau dijadikan tameng pembenaran, akan direnggutnya masa anak-anak yang sejatinya mendapatkan perhatian dalam segala aspek yang menunjang perkembangannya. Namun, yang terjadi justru eksploitasi anak, dengan banyaknya anak yang jadi pemulung, pengemis di jalanan, bahkan perilaku pelecehan seksual terhadap anak.

Inilah PR kita bersama, khususnya para orang tua dan masyarakat untuk kembali mendukung satuan pendidikan seperti sekolah, untuk mengembalikan hak-hak anak, khususnya mendapat pendidikan dan pelindungan yang layak.

Keluarga sebagai sistem hidup

Menyediakan situasi belajar yang komprehensif bagi anak, menjadikan keluarga sebagai satu kesatuan hidup bagi anak untuk terus belajar sepanjang hayatnya. Situasi belajar yang kondusif di lingkungan keluarga, memberikan dampak signifikan terhadap perjalanan hidup anak, khususnya perihal pendidikan. Aspek sikap orang tua terhadap anak dianggap berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Memang terdapat perbedaan mencolok perihal cara mendidik yang dilakukan baik oleh orangtua maupun masyarakat terhadap anak jadul (baca: jaman dulu) dengan anak jaman now. Pertama, dari sudut pandang orang tua, yang sangat jelas berbeda perlakuan mendidiknya dengan sikap cenderung otoriter untuk anak jaman dahulu, dengan sikap cenderung demokratis untuk anak jaman sekarang. Kalau dahulu, orang tua concern dalam prestasi akademik, di mana dalam siklus perkembangan anak sejak dini, mulai dari masuk TK, SD, SMP, hingga SMA sebisa mungkin anak berada pada lingkungan sekolah yang kondusif dalam persaingan prestasinya.

Sikap cenderung otoriter makin berlanjut ketika anak meneruskan studi ke perguruan tinggi, tidak sedikit orangtua dengan ambisinya ingin anaknya kuliah di jurusan yang berprospek cerah seperti kedokteran, arsitek, insinyur. Padahal dalam jiwa anak ingin menimba ilmu di sastra dan seni. Disinilah image komunikasi satu arah antara orang tua dan anak tergambar jelas, sehingga memunculkan suatu anggapan bahwa komunikasi antara anak dengan orang tua jaman dahulu terkesan kaku, sehingga anak jarang punya kesempatan untuk ngobrol, atau sharing tentang apa yang dialami dengan orangtuanya. Namun, itu semua dilakukan orang tua agar anaknya menjadi “orang” di kemudian hari.

Sikap yang kemudian bertransformasi menjadi orang tua yang cenderung membebaskan anak untuk memilih jurusan ataupun cita-cita. Lebih demokratisnya orang tua terhadap pilihan sang anak, menunjukkan perubahan cara berkomunikasi yang lebih cair antara anak dan orang tua modern. Orangtua sebatas memberikan gambaran serta menekankan arti suatu tanggung jawab pada apa yang sudah dipilih sebagai konsekuensinya. Namun, permasalahan yang kemudian muncul adalah sikap terlalu membebaskan anak dengan pilihan dan cita-citanya tidak dibarengi dengan perhatian, pengawasan, kontrol orang tua dikarenakan kesibukan, maupun interaksi yang semakin minim antara anak dan orang tua yang disebabkan oleh hadirnya alat-alat teknologi canggih nan pintar, yang dibumbui dengan beragamnya media sosial di dunia maya. Dengan kata lain, pembiasaan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak, akan memupuk rasa aman, nyaman, percaya diri, berani, pada diri anak, karena merasa diayomi oleh orang tuanya. Urgensinya adalah pendidikan yang diterima anak di keluarga merupakan peletak dasar pendidikan, yang menentukan putih atau abu-abunya road map pendidikan anak.

Kedua, dari sudut pandang masyarakat, juga terjadi transformasi sikap terutamanya kepedulian terhadap pendidikan dan pergaulan anak ketika berada di lingkungan masyarakat. Kalau dahulu, masyarakat kita masih kental dan memegang teguh norma kesusilaan, sehingga ketika ada remaja lain jenis sedang mojok berdua atau apel di rumah pacar, senantiasa diingatkan bahwa ada batas jam berkunjung. Namun, yang terjadi saat ini, di jaman yang serba bebas, masyarakat kita seperti kehilangan sense untuk sekedar mengingatkan atau menegur para remaja kita yang terindikasi dalam kebiasaan-kebiasaan yang melanggar norma, seperti main kartu, minum-minuman keras, track-trackan motor, hingga narkoba dan seks bebas.

Kolaborasi

Berbagai solusi ditawarkan untuk memperbaiki atau mengatasi masalah pendidikan anak yang makin pelik. Pertama, mengingat pendidikan merupakan investasi jangka panjang, maka diperlukan sistem yang terintegrasi baik dari peserta didik, penyelenggara pendidikan, maupun lingkungan pendidikan, maka seyogyanya dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan penyelenggara di tiap satuan pendidikanyaitu sekolah untuk saling berkolaborasi, menyamakan irama perihal visi pendidikan mau dibawa kemana. Sehingga jelas, pentingnya keselarasan visi misi dan nilai-nilai yang ditanamkan, bagi keberhasilan anak.Kita sepakat bahwa, setiap anak lahir, fitrahnya dianugerahi bakat dan kemampuan yang sama oleh pencipta. Yang kemudian mewarnai anak untuk menjadi seseorang yang lebih berbakat, tentunya adalah orang tua, pergaulan di sekolah serta di lingkungan masyarakat.

Kedua, selain kolaborasi untuk menyatukan langkah, visi misi tentang pendidikan anak, salah satu faktor yang menyebabkan jalan ditempatnya pendidikan anak kita, terutamanya dalam konteks pendidikan di satuan pendidikan, adalah saling melempar tugas dan tanggung jawab, antara orang tua, guru, dan masyarakat. Lihat saja, ketika anak berada di sekolah, memang benar bahwa terjadi substitusi tugas mendidik dari orang tua kepada guru, tetapi seharusnya orang tua mengimbangi dengan komunikasi intens agar tidak ada missing link proses perkembangannya.

Perlu diingat bahwa dalam sistem manajemen berbasis sekolah (MBS), ada satu pilar penting sebagai penyokongnya yaitu PSM (Peran Serta Masyarakat). Masyarakat sebagai kumpulan orangtua yang hidup bersama di suatu wilayah, partisipasi yang diharapkan dalam bentuk sumbangsih pemikiran maupun sumbangan material, tidak hanya sebatas pada tangga terendah yaitu hanya memanfaatkan jasa satuan pendidikan, atau sekolah untuk mendidik anak-anak mereka. Namun, harus diejawantahkan dalam peran serta masyarakat (PSM) baik dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah, hingga berperan aktif dalam setiap event atau kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah, baik terlibat menjadi pelaksana kegiatan, hingga pengambilan keputusan baik akademis maupun nonakademis. Jadi, rasa memiliki anak ketika bersekolah tetap terjaga.

Memang, tidak mudah menyulap anak-anak kita yang sebagian besar sudah terjerumus pada comfort zone dengan berbagai akses internet dengan smartphonenya, beragamnya media sosial, yang mau tidak mau sedikit banyak menyita waktu anak. Kontribusi orangtua dalam keluarga dalam menanamkan pendidikan, baik intelektual maupun karakter, serta kontribusi nyata masyarakat, akan menopang terselenggaranya pendidikan anak di satuan pendidikan dengan maksimal. Semoga. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer