Kanal

Sihir Gawai

Mujiburrahman -

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEORANG mahasiswa, usia 18 tahun, terancam gagal kuliah. Setiap hari, dia menghabiskan waktu 18 jam untuk permainan online (gim daring). Untuk itu, dia mengonsumsi sabu dan metamfitamin. Sejak usia 6 tahun, dia memang sudah menggunakan gawai/ponsel pintar. Ia mulai memainkan gim daring sejak usia 13 tahun, dan kecanduan pada usia 17 tahun.

Kasus di atas hanyalah satu dari banyak kasus kecanduan gawai yang dipaparkan Kompas, 23 Juli 2018 lalu. Ada lagi anak usia 7 tahun yang bisa menghabiskan 7 jam sehari bermain gawai. Jika dilarang, dia berteriak-teriak, menangis dan mengumpat dengan kata-kata kasar. Dalam kasus lainnya, ada anak usia 11 tahun, membanting adiknya bahkan mencekik ibunya karena marah dilarang bermain gawai.

Kasus-kasus lainnya masih banyak. Padahal, seperti dikutip Kompas, survei Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia pada 2017 mencatat, pengguna internet di negeri ini mencapai 143,26 juta orang, dan 75,5 persen di antaranya berusia 13-18 tahun. Selain itu, 93,52 persen pengguna media sosial berusia 9-19 tahun. Artinya, anak-anak dan remaja kita sangat rentan dengan bahaya kecanduan gawai.

Menurut pakar psikologi, kutip Kompas, anak dan remaja sudah tergolong kecanduan jika menggunakan gawai lebih dari 3 jam sehari. Kecanduan berarti ketertarikan berlebihan. Menurut seorang dokter dari RS Cipto Mangunkusumo, kecanduan gim mirip dengan kecanduan narkoba. Korban kehilangan fungsi eksekutif pada otak sehingga dia tidak mampu lagi merencanakan dan mengendalikan aktivitasnya.

Mengapa seorang anak sampai kecanduan? Karena dia diberi kesempatan bermain gawai tanpa kontrol. Mengapa orangtua membiarkan bahkan menyuruh anaknya bermain gawai? Karena si orangtua ingin memberikan kompensasi atas kurangnya perhatian kepada si anak akibat kesibukan, atau sebagai cara mengalihkan perhatian si anak supaya tidak mengganggu orangtua yang sedang bekerja atau istirahat.

Demikianlah, gawai atau ponsel pintar, pelan-pelan menjadi pengasuh anak-anak kita. Mesin-mesin tanpa hati dan jiwa itu rupanya mulai menggantikan fungsi manusia. Siapakah kiranya yang salah kalau bukan manusia itu sendiri? Manusia menciptakan satu benda, dan kemudian dia takluk dan tunduk kepadanya. Inilah berhala. Orang tak perlu kembali ke zaman Nabi Ibrahim untuk mencari berhala!

Berhala yang ‘disembah’ para pecandunya itu bukan patung tak bersuara, melainkan foto, video dan animasi yang menyampaikan ajaran-ajaran untuk ‘diamalkan’ seperti kata-kata kasar, ujaran kebencian, tindak kekerasan hingga pornografi. Anak-anak pecandu-polos itu tentu mudah terpengaruh. Pada 2010 misalnya, BPS melaporkan, terdapat 80 juta anak yang mengakses pornografi secara daring (online).
Karena itu, sudah saatnya kita semua harus mengambil langkah-langkah agar gawai tidak menjadi berhala. Para orangtua wajib mengontrol dan mendidik anak-anak mereka dalam menggunakan gawai secara baik dan sehat. Orangtua pun harus menjadi teladan. Jika orangtua juga kecanduan gawai hingga mengabaikan komunikasi dengan anaknya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa melarang anaknya?

Selain itu, sekolah harus memberikan perhatian kepada masalah penggunaan gawai ini. Umumnya, sekolah kita telah melarang anak-anak membawa gawai ke sekolah. Hanya saja, larangan ini sebagian masih kurang efektif karena lemahnya kontrol. Sebagai alternatif, sekolah sebaiknya juga menyediakan beberapa ponsel yang dapat digunakan siswa untuk berkomunikasi dengan orangtua jika diperlukan.

Begitu pula, anak-anak bahkan orangtua perlu mendapatkan wawasan mengenai penggunaan gawai yang baik dan sehat. Gawai, sebagaimana teknologi lainnya, adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi berhala yang berbahaya, bisa pula menjadi sahabat yang setia. Teknologi dapat melipatgandakan kecepatan dan kekuatan orang untuk berbuat jahat, tetapi dapat pula untuk berbuat baik.

Guru Besar kajian Islam di State University of New York, William C. Chittick, pernah mengatakan bahwa teknologi modern itu laksana sihir. Hanya saja, teknologi adalah sihir hitam sekaligus putih, dan hitam-putihnya tergantung manusia yang menggunakannya. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Gubernur Tampar Suporter PSMS Medan hingga Videonya Viral, Beri Penjelasan di Instagram

Berita Populer