Kanal

ASI Eksklusif dan Ancaman Penjara (Refleksi Pekan ASI Internasional)

Kunyit, Sembuhkan Mastitis Saat Menyusui Tanpa Operasi - Hushushlittlebaby

Oleh: Pribakti B, Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

AIR Susu Ibu atau lebih dikenal dengan sebutan ASI sangat penting untuk perkembangan bayi, terutama untuk bayi yang baru lahir. ASI sendiri memiliki banyak kandungan di dalamnya sehingga dapat membuat bayi memperoleh banyak asupan yang sesuai jika dibandingkan dengan meminum susu formula buatan pabrik-pabrik. Usia bayi yang baik untuk mendapatkan ASI adalah saat mereka berusia 0-6 bulan. Pada usia-usia ini bayi sangat membutuhkan asupan nutrisi yang banyak. Dan air susu yang memiliki banyak kandungan nutrisi adalah ASI. Bagi para ibu sendiri memiliki ASI yang sehat, lancar dan eksklusif pun menjadi impian mereka semua. Akan tetapi banyak dari mereka yang tidak mendapatkan kelancaran saat menyusui bayi mereka.

Pernahkah kita membayangkan pada suatu hari penjara-penjara yang ada di negara kita tidak saja dipenuhi oleh penjahat-penjahat kelas kakap, tetapi dipenuhi juga oleh tenaga-tenaga kesehatan seperti dokter umum, dokter anak, dokter kebidanan, bidan, perawat, dan lain sebagainya.

Semua pasti akan bertanya, “Kenapa bisa begitu?” Pada September 2009 yang lalu, pemerintah Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Salah satu pasalnya, yaitu pasal 200, tertulis: Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2), dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Setelah 1 tahun sosialisasi, sejak September 2010 Undang-Undang ini telah diberlakukan. Jika kita sebagai tenaga kesehatan tidak mewaspadai akan hal ini, tidak mustahil “reuni” tenaga kesehatan yang dimaksud di atas terjadi bukan di hotel mewah, tetapi di bui, lembaga pemasyarakatan (LP).

Menurut data Indonesia Demographic and Health Survey 2007, cakupan ASI eksklusif negara kita hanya mencapai 32 persen. Turun 8 persen jika dibandingkan dengan survei yang sama yang dilakukan pada 2002 -2003. Apa faktor penyebabnya? Banyak faktor penyebab yang mempengaruhi produksi ASI. Seperti diketahui produksi ASI di dalam tubuh bergantung terhadap dua hormon yaitu prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin sendiri sangat berpengaruh terhadap produksi ASI. Sedangkan untuk hormon oksitosin berpengaruh terhadap proses pengelauran ASI.

Semakin banyak nutrisi yang masuk ke sang ibu maka semakin banyak hormon prolaktin, dan semakin banyak pula produksi air susunya. Oleh karena itu banyak yang menghimbau terhadap ibu-ibu yang menyusui untuk selalu memperhatikan makanan yang mereka makan agar makanan tersebut juga bisa mengahasilkan nutrisi yang bertujuan untuk memperlancar dalam memproduksi ASI. Untuk hormon oksitosin sendiri bekerjanya hormon ini tergantung akan sering atau tidak puting susunya dihisap oleh bayi mereka. Semakin sering dihisap maka akan semakin banyak produksi hormon oksitosin yang berdampak terhadap lancarnya ASI yang keluar. Hormon oksitosin ini sering disebut juga dengan hormon kasih sayang, karena berhubungan dengan susasana hati dan perasaan seorang ibu pada saat mereka menyusui bayinya.

Selebihnya, saya dapat mengatakan bahwa penyebab rendahnya produksi ASI adalah multifaktorial. Maka dari itu setiap mengawali kuliah manajemen laktasi pada calon dokter kebidanan, saya selalu mengatakan bahwa ASI adalah anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada kita manusia. Apakah manusia, khususnya wanita di Indonesia, sudah mensyukuri anugerah ini? Jawabannya sudah kita ketahui bersama di atas, baru 32 persen. Masih dibutuhkan tenaga-tenaga kesehatan untuk menyadarkan 68 persen sisanya.
Permasalahannya, belum semua tenaga kesehatan menguasai tentang ASI dan pro terhadap ASI.

Bayangkan, seandainya manusia Indonesia, dalam hal ini semua ibu dan tenaga kesehatan, mensyukuri pemberian Tuhan yang satu ini. Dapat dipastikan tidak ada yang namanya pelatihan manajemen laktasi karena semua menyadari bahwa ASI adalah satu-satunya yang makanan terbaik untuk anak manusia. Mungkin tidak perlu sampai ada undang-undang yang berisi pasal-pasal tentang ASI, berikut sangsinya bila ada yang melanggar.

Tapi itulah yang terjadi dengan ASI di Indonesia. Mengapa harus diancam hukuman terlebih dahulu baru kita mau menyadari dan mensyukuri akan keberadaan ASI? Profesor Utami Roesli, seorang pakar ASI Indonesia, dalam paparannya di suatu seminar laktasi menantang peserta yang ada dengan sebuah pertanyaan, “Apakah kita tenaga kesehatan sudah membantu ibu-ibu di Indonesia agar dapat menjadi malaikat bagi anaknya?”

Akhir kata, saya harap semua tenaga kesehatan yang ada di seluruh wilayah Indonesia mau memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk mempersiapkan dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menganjurkan ASI eksklusif untuk bayi yang baru lahir sampai bayi berusia 6 bulan. Bisa dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang sudah biasa menyelenggarakan pelatihan manajemen laktasi atau sebagai institusi dapat mengundang pakar-pakar di bidang ASI untuk memberi pelatihan bagi karyawan-karyawannya.

Tidak ada kata terlambat untuk suatu pekerjaan mulia. Melalui apa yang kita coba lakukan bersama, di masa mendatang kita harapkan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang handal. Tidak perlu dengan suatu cara yang mahal, cukup ASI eksklusif atau mau masuk penjara? Selamat Pekan ASI International 1- 7 Agustus 2018! (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer