Kanal

Desaku, Tempoe Doeloe dan Zaman Now

KH Husin Naparin - banjarmasinpost.co.id/rahmadhani

Oleh: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

AKU dibesarkan di desa yang dapat dikatakan agamis. Salat berjemaah di masjid dan di langgar dengan wirid nyaring khususnya Magrib, Isya dan Subuh pakai qunut. Usai salat, jemaah bersalaman satu persatu sambil berselawat nyaring pula, terbentuklah lingkaran.

Tarawih di bulan Ramadan 20 rakaat dan witir tiga rakaat, setiap dua rakaat sekali salam dibaca selawat bersahutan. Usai tarawih diadakan tadarusan Alquran di masjid dan langgar pakai pengeras suara.

Kalau ada yang meninggal, setelah dikuburkan, dibacakan talqin. Ada tahlilan di rumah duka malam pertama, ke 3, 7, 40, 100 hari, dan haulan setelah satu tahun. Setiap tahlilan disuguhkan jamuan sesuai kemampuan. Menjelang atau sesudah hari raya ramai ziarah kubur dan dibacakan Yasin.

Setiap minggu, ada acara Yasinan di setiap kampung atau RT. Kaum lelaki hampir tidak ada yang berjenggot. Pakaian mereka (celana atau sarung) menutup mata kaki. Kaum perempuan tidak ada yang bercadar. Barangkali hal ini potret umum keadaan di banua kita dan di daerah lainnya di Indonesia sejak
lama.

Zaman now, di antara anak desa ada yang mengaji ke luar negeri. Setelah kembali ke kampung halaman melabrak, bahwa semua peribadatan seperti ini harus diluruskan dan dikembalikan ke ajaran murni Rasulullah karena semua itu bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh beliau, pelakunya masuk neraka.

Keresahan terjadi, kendati ada masyarakat yang cuek dan ada yang mengikuti. Terbanyak mempertanyakan. Silaturrahmi jadi terganggu, ada keluarga meninggal tidak mau menengok.

Penulis tidak bermaksud berpolemik, mempersoalkan masalah bid’ah dan amaliyah yang dibid’ahkan. Yang berpendapat itu bid’ah, silahkan tetapi tidak bersifat menantang dan menyalahkan.

Yang sudah sejak lama mengamalkan, teruskan sesuai keyakinan. Semua kita tidak mungkin 100 persen mengikut Rasul. Ada yang lebih mendahulukan bidang tertentu dan ada yang melebihkan pada bagian yang lain. Kalau bid’ah, sepertinya kita semua berbuat bid’ah. Di Masjid al-Haram Salat Tarawih 20 rakaat dan witir tiga rakaat, setiap dua raka’at sekali salam, sebulan Ramadan dikhatamkan Alquran, dibaca doa khatam. Doa qunut dibaca sejak malam pertama Ramadan. Pernahkah dicontohkan oleh Rasul?

Pakaian? Jubah Imam di Masjid al-Haram dan Raja Salman, panjang menutup mata kaki. Dosen penulis di al-Azhar University, Kairo, Syekh Muhammad al-Gazali berjubah panjang menutup mata kaki dan berjenggot. Sedangkan satunya Syekh Muhammad Bahai al-Khauli berjas dan berdasi seperti orang Eropa, tidak berjenggot. Keduanya ulama kaliber internasional pengarang berpuluh buku keislaman, hafizh dan hafal ribuan hadis.

Mertua penulis, KH Muhammad Hanafi Gobit (alm) Kakanwil pertama Depag Kalimantan, puluhan tahun studi di Makkah, tidak mengotak-atik amaliyah yang ada di banua, bahkan beliau membaca kitab Hikam di Masjid Jami, Banjarmasin.

Guru penulis Dr KH Muhammad Saberan Effendy, di Amuntai, ahli hadis keluaran Makkah tidak membawa paham meresahkan masyarakat. Sahabat penulis di Jakarta, Dr KH Mustafa Ya’kub MA (alm) alumni Riyadh, dan KH. Imansyah Lc di Rantau alumni Madinah, tetap memelihara aswaja.

Marilah kita beramal ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Inilah yang pernah diserukan oleh Tuan Guru KH Gurdan Hadi (alm) bertablig di pasar Amuntai, ketika terjadi pertengkaran khilafiyah di banua kita, waktu itu penulis masih remaja. Beliau membaca ayat Allaahu rabbunaa warabbukum lanaa a’maalunaa walakum a’maalukum laa hujjata bainanaa wa bainakum...

Artinya : “Allah jualah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu, tidak patut ada sekarang pertengkaran antara kami dengan kamu...” (QS as-Syura 15). Ayat ini tidak salahnya untuk kita renungkan menghadapi perbedaan pendapat, kendati sebenarnya ayat ini sewaktu diturunkan adalah dalam kontek umat muslim berhadapan dengan kaum kuffar.

Mari kita berdoa: Allaahumma allif baina quluubinaa li-thaa’atika wa thaa’ati rasuulika. Amin, banyak persoalan umat yang harus kita selesaikan seperti kebodohan, kemiskinan, narkoba, dan berbagai macam kemaksiatan; tak ketinggalan masalah yang hampir tak terjangkau, yaitu pembinaan muallaf dan pembinaan umat di daerah-daerah terpencil. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Hasil Final Polling Mata Najwa di 3 Sosmed, Prabowo-Sandi Unggul dari Jokowi-Ma'ruf Amin

Berita Populer