Kanal

Cium Pipi, Dahi Sampai Bibir Staf Perempuannya, Ketua Koperasi Ini Terancam 12 Tahun

Reza Oktavian, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Tanahlaut - Mukhtar Wahid

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI- Jangan coba -coba ganjen mencum pipi kanan (Cipika) dan cium pipi kiri (Cipiki) terhadap staf perempuan kalau tidak ingin berbuntut panjang.

Itu yang dialami Heriyadi (45), Ketua Koperasi karyawan perusahaan pertambangan batu bara di wilayah Kecamatan Jorong dan Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanahlaut.

Warga Desa Asamasam, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanahlaut menjalani sidang kasus asusila terhadap bawahannya itu tertutup untuk umum.

Reza Oktavian, jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Tanahlaut, menjelaskan Heriyadi didakwa melanggar pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Itu ancamannya pidana penjara paling lama 12 tahun.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG! Live Streaming Indosiar Indonesia vs Malaysia Semifinal Piala AFF U-16 2018

Menurut Reza Oktavian, peristiwa itu dialami korban berinisial BA di kantor Koperasi pada 3 Maret 2018, sekitar pukul 11.00 Wita. Korban secara paksa diduga dicium oleh terdakwa di pipi kanan, pipi kiri, dahi atas dan bibir.

"Korban tidak terima dengan perbuatan terdakwa sehingga melaporkan kasus yang dialaminya kepada polisi. Hari ini sidang kedua mendengar keterangan lima orang saksi. Saksi korban, kedua orang tua korban dan dua orang rekan kerja korban," ujar Reza Oktavian, Kamis (9/8/2018).

Baca: Mahasiswa Banjarmasin Temukan Alat untuk Melacak Sepeda Motor yang Hilang

BA usai memberikan keterangan kepada majelis hakim yang dipimpin Harries Konstituanto serta dua hakim anggota Amelia Sukmasari dan Riana Kusumawati mengaku lega dan merasa plong.

Perasaan lega dan plong Itu karena perbuatan terdakwa yang mencium bibir korban sudah melebihi batas kepatutan, apalagi saat itu dirinya hanya sendirian di ruangan.

"Saya sudah menghindar tetap bibir saya dicium. Katanya perilaku itu dilakukan terhadap karyawan lainnya yang takut. Saya tidak takut memberi pelajaran, makanya laporkan ke Polres Tanahlaut," katanya.

Baca: BREAKINGNEWS - Kyai Maruf Amin Jadi Cawapres Jokowi pada Pilpres 2019, Lalu Mahfud MD?

Menariknya, proses sidang itu diikuti Kasatreskrim Polres Tanahlaut AKP Agus Rusdi Sukandar dan Kanit PPA Satreskrim Polres Tanahlaut, Iptu Samdinah.

Pengacara terdakwa, Rizaldi Nazaruddin dan Hidayatullah mengaku dari fakta di persidangan terungkap bahwa keterangan korban berbeda dengan keterangan kliennya.

"Klien kami mengaku ciuman itu tidak ada paksaan. Lokasi peristiwa dan tanggalnya juga berbeda. Hanya ada dua orang saat itu, korban dan klein kami," katanya.

Kemudian sudah ada proses mediasi di Mapolres Tanahlaut dan pemberian dana. "Surat mediasi sudah kami diperlihatkan kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari," kata Rizaldi diamini Hidayatullah.

Terkait kasus asusila yang dimediasi di tingkat penyidikan, Reza Oktavian menegaskan itu akan menjadi pertimbangan jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Tanahlaut membacakan tuntutan dan menjadi pertimbangan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari saat memutuskan vonis pelaku.

"Kasus asusila yang dilakukan terdakwa bukan merupakan kasus pidana delik aduan. Tapi kasus delik pidana biasa. Proses mediasi itu hanya meringankan terdakwa saja," katanya. (Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer