Kanal

Menunggu Detik Akhir Pendaftaran

Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto - Kolase TRIBUNSOLO

BANJARMASINPOST.CO.ID - DUA hari menjelang penutupan pendaftaran calon presiden dan wakil presiden ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8), belum ada satu pun pasangan yang hadir di kantor penyelenggara pileg dan pilpres tersebut.

Meski dua figur calon presiden sudah ramai disebut khalayak dan para politisi, yaitu Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, namun nama-nama calon wakil presiden masih dirahasiakan. Bak sebuah permainan catur, masing-masing pihak menunggu di detik-detik terakhir, untuk mengumumkan sang pendamping.

Ketua Komisioner Komisi Pemilihan Umum Arief Budiman pun meyakini calon presiden dan calon wakil presiden akan mendaftarkan diri di hari terakhir masa pendaftaran, pada Jumat besok.

Seperti diketahui, KPU telah menggelar pendaftaran capres-cawapres sejak Sabtu (4/8) di kantor KPU Pusat dan akan ditutup pada Jumat (10/8) pukul 24.00 WIB. Tapi masing-masing kelompok koalisi masih saling mengintip dan mengelus-elus calon wakil presidennya.

Pertarungan figur calon wakil presiden inilah yang bakal lebih menarik di Pilpres 2019, bagaimana kapabilitas mereka, jejak rekam dan suara pendukung yang dibawa untuk memenangi pilpres, ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Maklum, Jokowi-Prabowo sudah dipertemukan dalam laga empat tahun silam.

Poros koalisi pun ternyata juga tak linear dengan 2014 silam. Ada beberapa pergeseran dukungan dari partai politik yang sebelumnya ke Prabowo, kini ke Jokowi, sebagaimana Golkar dan PPP. Atau kehadiran Demokrat yang kini memilih bersanding dalam koalisi pendukung Prabowo. Tentunya ini juga menambah menarik peta persaingan.

Dan jelang pendaftaran yang ditutup besok, ada beberapa catatan bagi kedua pasangan. Pertama, menghindari gesekan di grass root, pasangan calon tak perlu mengerahkan massa ke KPU saat pendaftaran besok. Belajar dari keributan saat pencaftaran caleg beberapa hari lalu, apapun bentuk kreativitas dan ciri khas yang akan ditonjolkan, calon tak perlu membawa massa berlebihan.

Calon juga harus bisa menunjukan kualitas diri, bukan dari berapa banyak massa yang dikerahkan, tetapi program apa yang dibawa untuk membawa Indonesia lebih maju.

Kedua, pasangan calon harus bisa menenangkan dan mengendalikan masa pendukungnya pascapendaftaran capres-cawapres. Pengalaman dan risiko konflik horisontal yang ternyata masih membekas sejak Pilpres 2014 lalu, harus menjadi pelajaran.

Paling sederhana, setelah nama-nama didaftarkan, masyarakat pasti bakal dihadapkan dengan perang opini di media sosial (medsos) mengenai calon-calon yang mereka dukung.

Bicara mengenai visi dan misi di medsos tentu mencerahkan, apalagi hal tersebut bisa memberi panduan bagi calon pemilih. Tetapi yang memprihatinkan saat ini yang beredar justru ujaran kebencian dan ungkapan SARA terhadap masing-masing figur.

Terlalu mahal ongkos yang harus dibayar bangsa ini apabila muncul konflik hanya gara-gara agenda lima tahunan tersebut. Masing-masing pihak harus bisa mengendalikan diri, lepas dari fanatisme atau kebencian berlebihan pada calonnya.

Dalam hal ini, peran tokoh masyarakat dan tokoh agama pun tidak kalah penting. Dan masing-masing calon harus bisa juga merangkul mereka, tidak semata untuk mengarahkan suara pemilih ke salah satu figur, namun juga mengarahkan sikap pemilih agar lebih beradap dan bermartabat. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Terekam Kamera Sosok Pria yang Diduga Selingkuhan Angel Lelga, Digerebek Vicky Berduaan di Kamar

Berita Populer