Kanal

Menjawab 4 Masalah Bangsa

Joko Widodo - Prabowo Subianto - tribun jakarta

HIRUK-PIKUK dan tarik-ulur calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Joko Widodo dan Prabowo Subianto berakhir. Kamis (9/8) kemarin, masing-masing kubu sudah mengumumkan pasangannya untuk bertarung di kontestasi Pilpres 2019.

Capres Joko Widodo yang didukung sembilan partai politik yaitu PDIP Perjuangan, Partai Golkar, Partai NasDem, PKB, PPP, PSI, PKPI, Perindo, dan Hanura memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Sedangkan capres Prabowo Subianto yang didukung tiga partai politik, yaitu Gerindra, PAN, dan PKS memilih Sandiaga Uno sebagai cawapresnya.

Jumat (10/10) sekitar pukul 09.00 WIB, Jokowi-Ma’ruf didampingi para pendukungannya mendaftar diri ke KPU sebagai capres dan cawapres 2019.Di hari yang sama, sekitar empat kemudian, Prabowo-Uno bersama para pendukungnya juga mendaftarkan diri ke KPU sebagai capres dan cawapres 2019.

Dua calon orang nomor satu di Indonesia pastilah tidak bisa memuaskan semua orang. Karena kecewa mewarnai pendeklerasian pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Uno. Jokowi-Ma’ruf misalnya, sebelum diumumkan kepublik, nama Mahfud MD santer disebut sebagai pendamping Jokowi. Publik pun merespon baik dan hal itu bisa terwujud. Namun menjelang menit-menit terakhir, nama Mahfud tenggelam, yang muncul nama Ma’ruf.

Begitu juga dengan Prabowo-Uno. Nama-nama yang gencar disebut akan mendampingi Prabowo seperti Salim Segaf Aljufri, Abdul Somad Batubara dan Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies kurang direspons oleh Prabowo. Padalah publik sangat menginginkan salah satu dari mereka, khusus Abdul Somad Batubara, yang terpilih mendampingi Prabowo. Yang terpilih justru nama Sandiaga Uno.

Suka tidak suka, rasa kecewa itu harus dihilangkan. Sekarang, di depan mata kita ada dua capres-cawapres yang harus dipilih di Pilpres 2019, Jokowi-Ma’ruf atau Prabowo-Uno. Tidak ada pilihan ketiga atau golput. Dalam hal memilih ini kita harus cerdas. Jangan sampai tergoda keuntungan sesaat atau angin surga yang ditawarkan capres dan cawapres.

Mulai sekarang kita harus bersikap bahwa presiden dan wakil presiden yang terpilih nanti harus mampu menjawab empat permasalah bangsa: kemiskinan, pengangguran, korupsi dan radikalisme. Kemiskinan misalnya, hingga sekarang masih di atas lima persen.

Kasus korupsi belum bisa diatasi atau dikurangi. Indonesia Corruption Watch mencatat, pada tahun 2016 terdapat 482 kasus korupsi dengan kerugian Negara mencapai Rp 1,5 triliun. Pada tahun 2017 terdapat 576 kasus korupsi dengan kerugian negara mencapai Rp 6,5 triliun.

Peningkatan ini karena ada kasus dengan kerugian negara yang besar yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu kasus KTP elektronik. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Beredar Isi Percakapan Asusila Kepsek SMAN 7 Mataram yang Menyeret Baiq Nuril

Berita Populer