Kanal

Hasrat Berkuasa

Mujiburrahman -

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETELAH mengetahui Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno adalah pasangan yang akan berlaga dalam Pilpres 2019, politik segera menjadi tema obrolan paling panas di negeri ini, baik di dunia nyata ataupun maya. Orang mulai menjagokan idolanya dan kadangkala merendahkan lawannya. Tak jarang, kata-kata kasar dimuntahkan begitu saja. Apa sebab di balik semua ini?

Menurut filosof Jerman, Friedrich Nietzsche, hasrat paling kuat dalam diri manusia adalah keinginan untuk berkuasa (the will to power). Keinginan ini pada dasarnya netral, tidak baik atau buruk. Manusia dapat menguasai orang lain dengan cara-cara yang baik atau buruk. Bahkan manusia juga dapat mengarahkan keinginan berkuasa itu kepada dirinya sendiri sehingga dia dapat mengendalikan diri.

Hasrat berat ingin berkuasa itu, tidak hanya berlaku bagi para politisi, tetapi bagi semua orang. Mungkin inilah sebabnya mengapa hampir semua orang dewasa tertarik pada politik pilpres, terutama jika kita amati berbagai pernyataan warganet di media sosial. Pilpres seolah pintu gerbang bagi seluruh warga untuk menyalurkan keinginan berkuasa mereka. Ibarat bendungan yang jebol, hasrat itu mengalir deras.

Keinginan berkuasa itu mengandaikan adanya pihak lain yang dikuasai. Agar dikuasai, pihak lain itu harus dikalahkan. Karena itu, logika yang berlaku di sini adalah menang atau kalah. Karena pilpres adalah pertarungan antarmasing-masing pendukung pasangan calon, maka dengan sendirinya harus dibuat garis yang tegas, siapa kawan dan siapa lawan. Yang netral, yang abu-abu, dianggap tidak berguna.

Bagaimanakah kebersamaan sebagai kawan dan perbedaan dengan lawan dihadirkan? Mungkin teori Emile Durkheim bisa menjawab. Penghadiran kebersamaan (collective representation) katanya, dapat diwujudkan melalui simbol-simbol. Karena itulah, warna dan model pakaian, slogan dan yel-yel dibuat sedemikian rupa sebagai ciri khas pasangan calon tertentu, yang menjadi simbol-simbol kebersamaan.

Pada akhirnya, simbol yang paling utama adalah diri pasangan calon itu sendiri. Capres-cawapres yang kita idolakan adalah simbol, tanda atau lambang, yang menghadirkan diri kita sendiri. Di sinilah kiranya kekuatan slogan pilpres 2014 lalu: Jokowi-JK adalah Kita. Pasangan calon yang didukung itu menjelma menjadi diri kita sendiri. ‘Kita’ di sini adalah totalitas diri kita, termasuk pikiran, perasaan dan sikap kita.

Dengan demikian, kita tak perlu heran jika orang bersikap sangat emosional, baik di dunia nyata ataupun dunia maya, dalam mendukung calon pujaannya. Dia sebenarnya tidak sekadar membela sang idola, tetapi terutama, membela dirinya sendiri. Simbol politik, terutama sang calon, benar-benar memiliki kekuatan magis bahkan sakral yang dapat menenggelamkan diri pribadi dalam lautan kebersamaan.

Namun identifikasi diri melalui simbol sebagai diri bersama itu tidak serta merta berarti bahwa orang telah kehilangan total jati dirinya. Bagaimanapun, manusia itu sama sekaligus berbeda. Karena itu, tentu ada alasan-alasan yang membuat orang merasa sama dengan pasangan calon tertentu. Kesamaan itu, kata Ibnu Khaldun, bisa pada tataran cita-cita, ikatan sosial budaya, hingga kepentingan ekonomi.

Dukungan kepada pasangan calon tertentu karena kesamaan cita-cita dan kepentingan ekonomi dapat dianggap sebagai alasan-alasan rasional. Aku memilihmu karena yang kau perjuangkan adalah cita-citaku juga. Aku mendukungmu karena mengharap mendapatkan kesejahteraan dari kekuasaan yang kau dapatkan, entah dalam bentuk pemberian uang, harta benda, lapangan pekerjaan atau jabatan.

Namun, karena manusia itu makhluk rasional sekaligus emosional, individual sekaligus sosial, maka politik tidak akan berjalan penuh tanpa melibatkan dua sisi kedirian manusia itu. Menyangkal satu sisi, berarti menyangkal kemanusiaan kita. Hanya saja, baik sisi rasional ataupun emosional, individual ataupun sosial, baik buruknya secara moral tetap tergantung pada manusia yang melakoninya.

Alhasil, tutur kata yang kasar dan perilaku yang liar dalam politik adalah wujud dari hasrat berkuasa yang gagal menundukkan hasrat-hasrat buruk di dalam diri sendiri. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post

Beredar Foto-foto Awal Penemuan Jasad Korban Pembunuhan Sekeluarga di Bekasi, 2 Anak di Kamar

Berita Populer