Kanal

Jiwa Penggalang Pramuka

Joko Widodo - KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno - tribun jabar

‘PERTARUNGAN’ para calon pemimpin negara ini, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiago Uno dalam memperebutkan dukungan suara rakyat kembali diuji dalam Pemilu Presiden 2019.

Seperti mengulang pilpres periode lalu, pertarungan antar capres hanya didominasi oleh dua kubu dengan figur capres yang sama. Nasib kepemimpinan negeri untuk periode lima tahun berikutnya sudah bisa dipastikan akan berkutat pilihan dua nama capres bersama pasangan wakilnya.

Nah, berbicara tentang jiwa kepemimpinan, sejak dulu bahkan orde lama jiwa kepemimpinan ditumbuhkembangkan untuk mencetak generasi-generasi pemimpin intelektual, kompatable, integritas serta cerdas membangun Indonesia mandiri. Dari kacamata awam, sejak mulai duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), bahkan Taman Kanak-kanak (TK) sudah diajari dan dibimbing cara menjadi seorang pemimpin.

Dan yang paling melekat dalam ingatan kita dan suka atau tidak, pendidikan kepemimpinan ini mulai didapatkan saat ada ekstrakurikuler yakni Pramuka. Dengan begitu, banyak yang menyebut, Jiwa Pramuka, Jiwa Kepemimpinan.

Wajar. Mulai dari gerakan pramuka inilah tertanam dalam diri jiwa nasionalisme, integritas dan universal, tanpa memandang suku, agama dan ras atau golongan.

Mulai dari tingkatan Siaga, penggalang, penegak dan seterusnya, akan membentuk pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Siaga adalah sebutan bagi anggota pramuka yang memiliki rentang usia 7-10 tahun. Biasanya golongan ini diperuntukan bagi anak SD kelas 1-3.
Kemudian, ada penggalang yang merupakan golongan pramuka yang memiliki rentang usia 11-15 tahun. Usia ini biasanya paling banyak di kalangan SD kelas 4 sampai SMP kelas 9. Setelah Penggalang pun ada penegak dan pandega yang memiliki tingkatan serta tanggung jawab yang lebih berbobot.

Meski ada tingkatan, namun intinya jiwa kepemimpinan dan kemandirian selalu melekat di setiap tingkatan pramuka ini.

Kepemimpinan inilah yang dibutuhkan dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan banyak orang terkait peran aktif dalam mencapai tujuan yang diharapkan sekaligus menyejahterakan banyak orang. Semua untuk kepentingan orang banyak.

Dari Pramuka hingga menjadi pemimpin negeri inilah, kita bisa banyak belajar, betapa pentingnya pembentukan jiwa kepemimpinan sejak dini.
Kepemimpinan itu timbul tipe kepemimpinan lain misalnya tipe instruktif, konsultatif, partisipatif dan delegatif hingga terbentuklah suatu negara yang mandiri.

Negeri ini tentu mendambakan figur pemimpin yang benar-benar mencintai rakyatnya, pengayom, pelindung serta mensejahterakan rakyatnya. Dari jiwa penggalang semua sifat kepemimpinan diharapkan muncul. Terwujud dalam bentuk pemimpin yang santun, berwibawa serta bermartabat. Selasa, 14 Agustus 2018, tepat sebagai Hari Pramuka ke-57, menjadi titik awal kebangkitan Bangsa Indonesia dari keterpurukan.

Melalui momen Hari Pramuka Indonesia, semua pintu keadilan, kesejahteraan, kedamaian serta kenyamanan perekonomian Rakyat Indonesia diharapkan bisa terwujud sekaligus mendapatkan pemimpin yang pengayom, pelindung dan mensejahterakan. Semoga! (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Beredar Foto-foto Awal Penemuan Jasad Korban Pembunuhan Sekeluarga di Bekasi, 2 Anak di Kamar

Berita Populer