Kanal

Ancaman Limbah Medis

Limbah medis - net

LIMBAH medis secara sederhana dipahami sebagai hasil buangan dari suatu aktivitas medis baik itu di lingkungan rumah sakit, puskesmas, klinik-klinik kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan lainnya.

Berdasarkan potensi bahaya dan sifat persistensinya yang menimbulkan masalah, dikenal ada limbah medis benda tajam seperti jarum suntik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, dan lain-lain. Kemudian limbah infeksius berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif) dan limbah laboratorium. Limbah ini dapat menjadi sumber penyebaran penyakit pada petugas, pasien, pengunjung, maupun masyarakat sekitar. Oleh karena itu, limbah ini memerlukan wadah atau kontainer khusus semisal insinerator.

Limbah medis lainnya, semisal limbah patologi dari jaringan tubuh yang terbuang dari proses bedah atau autopsi. Kemudian limbah sitotoksik yang terkontaminasi selama peracikan, pengangkutan, atau tindakan terapi sitotoksik. Limbah farmasi dari limbah obat-obatan. Limbah kimia dari penggunaan kimia dalam tindakan medis, laboratorium, proses sterilisasi dan riset. Kemudian limbah radioaktif yang terkontaminasi radioisotop dari penggunaan medis atau riset radionukleotida.

Sederhananya limbah medis masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Dan, pengelolaan limbah medis saat ini umumnya menggunakan teknologi alat insinerator dengan proses pembakaran.

Permasalahan yang selalu saja menjadi momok, ketika alat insinerator terjadi error, rusak ataupun dalam pemeliharaan sehingga tak bisa digunakan. Limbah medis menumpuk berhari-hari.

Sebagaimana kondisi unit insinerator RSUD Ulin Banjarmasin, dimana satu dari dua unitnya harus stop sementara operasional karena manintenance. Akibatnya unit insinerator yang ada hanya mampu menangani limbah medis dengan kapasitas terbatas. Sumber resmi pihak RSUD Ulin, unit insinerator tahun 2003 mengolah sampah kapasitas 50 kg sedangkan unit tahun 2012 berkapasitas sekitar 150 kg. Sementara saat ini pihak RSUD Ulin Banjarmasin mengasilkan sampah 300-400 kilogram per hari. Itu artinya, mesin insinerator harus dipaksa beberapa kali operasional dalam seharinya.

Belum lagi limbah medis dari puskesmas-puskesmas yang tak tertampung. Harus dikemanakan pengelohannya. Idealnya memang, setiap puskesmas memiliki unit pengolahan limbah medis semisal insenerator. Tapi berbagai kendala keterbatasan lahan, posisi puskesmas di lingkungan padat pemukiman yang mengakibatkan sulit direalisasikan.

Sementara Kota Banjarmasin belum punya insinerator khusus menampung limbah medis di banyak puskesmasnya. Pengelolaan limbah medis terpadu Banjar Bakula pun masih sebatas rencana. Momok masalah limbah medis ini harusnya cepat mendapat porsi penanganan serius dan fokus karena produksi limbah medis kian hari makin banyak menjadi ancaman serius meracuni kita. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Sebelum Tewas, Anak Korban Pembunuhan di Bekasi Tulis Surat: Mama Papa Maafin Kakak Sudah Buat Marah

Berita Populer