Kanal

Maknai Hakikat Merdeka

Paskibraka - Newsth.com

PAGI-PAGI, sejumlah pemuda berkumpul di sekitar Pegangsaan, Jakarta. Dalam keadaan puasa, mereka teramat sangat siaga. Hanya beberapa yang bersenjata api. Itu pun model kuno. Lainnya, membawabambu runcing dan senjata tajam. Ya, hanya itu.

Mereka berjaga-jaga, kalau-kalau tentara Jepang atau tentara asing lainnya datang untuk membawa pergi tokoh bangsa, Soekarno-Hatta. Pasalnya, telah tersiar kabar kedua tokoh itu bakal membacakan proklamasi; Indonesia merdeka.

Para pemuda itu siap mati untuk melawan tentara asing yang coba-coba datang ke Pegangsaan. Tentara asing yang akan dihadapi, tidak lain tidak bukan adalah veteran Perang Dunia. Lalu, senjata api kuno, bambu runcing? Bagi para pemuda, mati saat itu atau besoknya, tiada beda. Terpenting, Soekarno-Hatta bisa membacakan proklamasi. Akhirnya, kedua tokoh bangsa itu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Itulah suasana 73 tahun lalu, detik-detik kemerdekaan Republik Indonesia. Harinya sama seperti yang diperingati kemarin, Jumat, 17 Agustus.

Ya, kemarin, peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan, digelar mulai tingkat desa sampai nasional. Satu hal yang sering terdengar, isilah masa-masa kemerdekaan ini dengan bersama-sama membangun. Kalau di daerah, khusus di Kalsel, tentulah membangun mulai dari tingkat desa sampai tingkat provinsi. Ajakan untuk membangun in itui diharapkan tidak sekadar manis di bibir. Bukan cuma pemanis pejabat daerah. Kalau hanya bisa mengucapkan kalimat ajakan, tapi tidak mencontohkan, ibarat tong kosong nyaring bunyinya.

Contohnya infrastruktur yang sudah lama rusak parah dan tak kunjung ada perbaikan. Itukah ajakan membangun, mengisi kemerdekaan? Banyak fakta tentang kondisi infrastruktur yang tak layak yang hingga kini masih harus dirasakam warga yang sangat membutuhkan.

Jalan rusak sehingga sangat menyulitkan bagi petani membawa hasil bumi. Banyak lubang. Lubangnya besar-besar. Bahkan banyak kubangan besar setelah terkena hujan. Parahnya lagi adalah telah bertahun-tahun. Seperti biasa, pemerintah daerah terbatas anggarannya Bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, selalu karena anggaran minim.

Ada juga sekolah dasar negeri yang numpang di sekolah swasta. Bukan setahun atau dua tahun, tetapi puluhan tahun. Itukah yang dimaksud mengisi kemerdekaan? Apa yang telah dilakukan pemerintah daerah untuk mengisi kemerdekaan?

Warga sangat berharap, sarana, prasarana, infrastruktur dan lainnya betul-betul diperhatikan pemerintah daerahnya. Supaya, mereka nyaman ikut membantu membangun mengisi kemerdekaan. Senjata mereka kini, bila di desa, tentulah peralatan pertanian dan sejenisnya.

Bawa hasil buminya dengan nyaman, jiwa aman dan selamat, melintasi jalan yang baik, jembatan yang tidak rusak. Di perkotaan, guru mendidik dengan baik kepada anak-anak kita tanpa takut tertimpa plafon yang rapuh, kuda-kuda yang lapuk. Jadi semuanya, benar-benar bisa mengisi kemerdekaan sesuai tugas dan kewajiban masing-masing di masa kini. Merdeka. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Terekam Kamera Sosok Pria yang Diduga Selingkuhan Angel Lelga, Digerebek Vicky Berduaan di Kamar

Berita Populer