Kanal

Menghalau Galau

Mujiburrahman -

Oleh : Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari 

BANJARMASINPOST.CO.ID - MINGGU lalu, saya mengisi kegiatan orientasi mahasiswa baru yang kini disebut Perkenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Saat sesi tanya-jawab, beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan yang hampir sama; Bagaimanakah caranya agar saya dapat mempertahankan semangat belajar hingga meraih sukses?

Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab. Setiap orang tentu pernah mengalami masa pasang surut dalam semangat belajar, bekerja ataupun beribadah. Ini sangat manusiawi. Hidup bukan jalan tol yang mulus tanpa hambatan. Karena itu, orang yang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah gagal dan jatuh, tapi orang yang bisa bangkit kembali dari kejatuhan, lalu meneruskan perjuangan.

Agar bisa bangkit kembali, manusia perlu alasan. “Dia yang punya alasan mengapa harus hidup, akan mampu menanggung segala bentuk bagaimana caranya hidup,” kata filosof Jerman, Friedrich Nietzsche. Kutipan ini saya baca dari Viktor E Frankl, psikoterapis yang pernah tinggal di ‘neraka’ kamp konsentrasi Nazi selama tiga tahun, dalam bukunya Man’s Search for Meaning, yang sudah terbit dalam 49 bahasa.

Banyak ide Nietzsche yang tidak saya setujui, tapi untuk kutipan tersebut, sebagaimana Frankl, saya sangat menyetujuinya. Masalah paling mendasar dalam hidup manusia, kata Frankl, bukanlah hasrat untuk berkuasa (will to power) seperti yang pernah digagas oleh Nietzsche, melainkan hasrat akan makna (will to meaning). Apa tujuan yang ingin kuraih dalam hidup ini? Mengapa aku rela menderita?

Kepada para mahasiswa itu, saya memberikan dua ilustrasi. Pertama, pada bulan Agustus ini, kita biasa menyaksikan lomba panjat pinang. Pohon pinang yang sudah licin, diperlicin lagi dengan oli sehingga sangat sulit dipanjat. Namun, tim pemanjat itu tidak putus asa memanjat, meskipun terjatuh, lagi dan lagi. Mereka melakukannya dengan gembira dan saling menopang satu sama lain hingga berhasil.

Ilustrasi kedua adalah yang pernah saya dengar dari Tuan Guru H Zuhdiannor. Ketika kaki Anda keseleo, Anda mungkin akan datang ke tukang urut. Si tukang urut pun memijat kaki Anda. Anda tentu kesakitan, bahkan mungkin sampai meneteskan air mata. Tapi, Anda terima saja rasa sakit itu dengan tabah. Anda tidak marah pada si tukang urut. Usai dipijat, Anda malah memberinya uang dan berterima kasih.

Mengapa? Karena baik tim pemanjat pinang ataupun Anda yang keseleo benar-benar menyadari alasan mengapa kesulitan dan penderitaan itu layak dijalani. Alasan ini adalah tujuan yang ingin diraih. Dalam hal panjat pinang, ada sejumlah barang berharga menunggu di pucuk pohon pinang. Dalam hal keseleo, Anda ingin agar keseleo itu sembuh sehingga kaki Anda bisa digerakkan normal tanpa rasa sakit lagi.

Alasan, tujuan atau niat yang kita camkan dalam hati akan memberikan makna, arti dan nilai pada apa yang kita lakukan. Karena itu tepat sekali sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya nilai setiap perbuatan itu tergantung pada niat.” Setiap hari kita mengerjakan banyak hal. Mengapa kita mengerjakan semua itu? Apa tujuan yang ingin kita raih, baik duniawi ataupun ukhrawi, jangka pendek ataupun jangka panjang?

Menurut Frankl, ada tiga hal yang dapat menjadi sumber makna hidup: pekerjaan, cinta pada sesama dan musibah. Manusia akan bergairah menjalani hidup ketika dia merasa mengerjakan sesuatu yang bernilai, dari yang sederhana seperti memasak hingga menciptakan teknologi yang bermanfaat. Manusia juga akan merasa hidupnya bermakna jika dia dapat membahagiakan orang lain yang dicintainya.

Tapi, bagaimanakah dengan musibah yang tak terhindarkan? Ada banyak hal dalam hidup ini yang tak bisa dihindarkan. Agama menyebutnya takdir yakni ketentuan Allah, entah itu berupa penyakit, bencana atau kejahatan orang lain. Meski tak terhindarkan, manusia tetap memiliki pilihan moral dalam menyikapi musibah itu: apakah dia tabah dan mencari hikmahnya ataukah pasrah dan putus asa.

Alhasil, jalan hidup itu kadang lurus dan mulus, kadang berliku dan terjal. Daya tahan manusia untuk menjalaninya sangat ditentukan oleh seberapa jelas dan teguh tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan itulah yang menjadi penghalau galau ketika cuaca buruk mengganggunya. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Satu Keluarga di Bekasi Tewas, Saksi Lihat TV Nyala Pukul 03.30, Panggil Korban tapi Tak Ada Jawaban

Berita Populer