Kanal

Gotong-royong Bangun Ekosistem Pendidikan yang Kondusif

Muhammad Fajaruddin Atsnan - banjarmasin post group

OLEH: MUH FAJARUDDIN ATSNAN MPD, Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

PENDIDIKAN sebagai investasi jangka panjang suatu bangsa, sudah sepatutnya dikelola secara serius. Keseriusan mengelola pendidikan diharapkan mampu mewujudkan mimpi yang lebih baik pada masa depan, dengan hadirnya insan Indonesia yang berintegritas dan berkualitas.

Keseriusan yang dapat diejawantahkan melalui filantropi pendidikan yang konkret yaitu gotong-royong membangun eksosistem pendidikan yang sehat. Filantropi yang tidak hanya sekadar berwujud kedermawanan materi, tapi juga keikutsertaan mendidik, mentransfer nilai-nilai karakter dan kebiasaan yang mulia.

Keluarga dan Masyarakat
Pendidikan nasional sebagai suatu sistem, sampai saat ini belum menunjukkan jatidiri sebagai ekosistem yang kondusif. Lazimnya, dalam suatu ekosistem, terdapat hubungan timbal balik antarkomponen yang ada untuk berkembang bersama. Begitu pun dalam konteks pendidikan, seyogyanya muncul simbiosis mutualisme antarpihak yang terlibat langsung terhadap perkembangan dunia pendidikan nasional.

Namun, dalam ranah anak (siswa) sebagai subjek garapan utama, yang terjadi adalah kontradiksi terhadap yang seharusnya terjadi, seperti masih terkotak-kotaknya peran antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lebih-lebih, ketika siswa (baca: anak), berada di lingkungan satuan pendidikan seperti sekolah, tak sedikit keluarga dan masyarakat yang melimpahkan seluruh tanggung jawab mendidik anak mereka kepada pihak sekolah.

Dulu, pihak keluarga dan masyarakat akan mendukung yang dilakukan pihak sekolah demi membudayakan disiplin dan arti pentingnya taat tata tertib. Kebiasaan seperti ini, sangat bertolak belakang dengan yang terjadi pada zaman now.

Ketika seorang guru menegur anak agar lebih tertib atau menghukum cubitan, pihak keluarga (orangtua) langsung merespons dengan sikap berlebihannya hingga mempolisikan sang guru. Ini contoh ironisme pendidikan anak kita yang sejatinya dapat diatasi melalui komunikasi pendidikan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan untuk anak, sejak dini.

Pertama, melalui kombinasi antara keluarga dan sekolah. Keluarga menjadi institusi pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan budi pekerti, karakter, maupun nilai. Sedangkan sekolah, menjadi rumah kedua bagi anak. Dimana, selain melanjutkan estafet pendidikan karakter yang sudah dibentuk dari keluarga, di sekolah, anak juga akan dapat mengenyam pendidikan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Permasalahan yang kemudian muncul adalah kurang solidnya hubungan antara keluarga dan sekolah. Masing-masing pihak yang merasa telah ikut andil mendidik anak sesuai kapasitas dan ranahnya. Padahal, seharusnya ketika anak berada sekolah, justru kesempatan orangtua untuk terlibat aktif pada tiap program maupun kegiatan yang menunjang perkembangan lanjut pendidikan anak mereka.

Sesuai Permendikbud nomor 30 Tahun 2017 tentang pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan, pasal 6 menyebut bentuk pelibatan keluarga dalam satuan pendidikan dapat diwujudkan dalam beberapa kegiatan penting. Misalnya, turut menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh sekolah, serta mengikuti kelas orang tua, atau bahkan menjadi narasumber dalam kegiatan di sekolah.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Wanita di Medan Dicegat 4 Teman Sosialitanya saat Naik Taksi, Babak Belur Dihajar Pakai High Heels

Berita Populer