Kanal

Spektakuler

Fairel di video Jokowi Opening Ceremony Asian Games 2018 - Instagram

PERISTIWA pembukaan Asian Games (AG) XVIII di Gelanggang Olah Raga Bung Karno, Senayan, Jakarta, sudah seminggu lewat. Tapi kesan, tanggapan dan kebanggaan rakyat masih terasa menggumpal.

Spektakuler, indah, dan menawan adalah kesan yang didapat oleh rakyat. Tim kreatif begitu encer membuat acara pembukaan AG sebagai tontonan yang menarik. Lebih menarik lagi adalah saat Presiden Joko Widodo datang ke tempat acara sambil "trek-trekan" menggunakan motor gede Paspampres.

Meski sebagian hanya dilakukan oleh stunman (pemain pengganti) tapi rakyat terhibur. Ini pemandangan yang baru pertama dalam acara tingkat internasional, sangat menghibur dan menyenangkan. Kalau cuma naik kuda itu biasa, sejak zaman baheula para pemimpin naiknya juga kuda. Tidak aneh, kesannya cuma seperti hero-heroan yang mau maju perang dengan membawa tombak atau kelewang.

Tapi ya itulah Indonesia, pemimpin merakyat yang menyuguhkan tontonan menarik dibilang penipu karena ada adegan menggunakan pemain pengganti. Mengutamakan rakyat dengan mempersilahkan murid sekolah menyeberang jalan lebih dulu (nampak dalam video pembukaan AG), dibilang pencitraan.

Dalam adegan film berbahaya di manapun termasuk film-film produksi Hollywood yang paling kondang, peran pengganti tak pernah ditinggalkan. Apalagi untuk seorang presiden, alangkah bodohnya sutradara yang membiarkan presiden melakukan slalom atau jumping dengan motor gede apalagi kalau tidak biasa. Bagi seorang presiden, sakit flu saja semua dokter ahli dikerahkan, luka sedikit bisa jadi peristiwa besar. Beda dengan elit politik biasa yang sering jadi langganan hipertensi, stress, jantungan, diabetes, kolesterol, asam urat. Negara tidak urus mereka.

Jokowi memang punya jiwa seni, wajar karena dia lahir dan dibesarkan di Solo, kota yang menjadi pusat seni dan budaya. Lihat saja keramaian dalam HUT Kemerdekaan sekarang, sangat jauh berbeda dari presiden-presiden sebelumnya yang terkesan angker, jaim (jaga image) dan berjarak, sampai rakyat pun tidak bisa mendekat.

Acara-acara itu sesaat bisa melupakan kegaduhan politik saat penentuan bakal calon wakil presiden yang penuh teka-teki, jegal-jegalan, ancaman boikot sampai mahar yang segudang banyaknya.

Orang sesaat juga melupakan penderitaan batin mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang merasa dijegal di saat terakhir Presiden Jokowi mau mengumumkan siapa bakal calon wakilnya. Bajunya pun sudah dikirim ke istana sebagai ukuran untuk baju yang akan dibuat sama dengan milik presiden untuk dipakai waktu pendaftaran esoknya. Jadi sudah segitu pedenya Mahfud, ternyata saat terakhir Jokowi memilih KH Ma'ruf Amin, Ketua MUI, yang fatwanya berujung pada kampanye SARA saat pilkada DKI Jakarta.

***

Tak kurang mengejutkan ketika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di saat injury time mengumumkan nama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai bacawapres yang akan mendampingi. Semula orang tidak percaya karena koalisi setianya, PKS, mengancam hengkang jika kadernya tidak dipilih. Tapi mengapa Sandiaga yang muncul, keesokan harinya terjawab ketika Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief menyatakan ada mahar politik yang jumlahnya spektakuler. Ia pun menyebut ada jenderal kardus.

Prabowo tepat memilih Sandi karena diharapkan bisa menjadi daya tarik bagi kaum milenial (kalangan muda) yang jumlahnya sangat signifikan. Di pihak Jokowi justru dia sendiri yang dekat dengan kawula muda, di samping kaum tua yang sudah hanyut dengan Jokowi.

Ma'ruf Amin dan Prabowo mungkin lebih pas untuk kalangan tua. Pesantren bisa jadi ajang "duel" mereka, tapi pendukung Ma'ruf Amin merasa lebih percaya diri karena pesantren itu rumah mereka.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai pedukung utama Ma'ruf Amin sempat mengancam jika Ma'ruf tidak dipilih, 11 juta warga PKB dan NU tak akan memilih Jokowi.

Padahal pada pilpres tahun 2004 Megawati yang berpasangan dengan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi kalah juga dari Susilo Bambang Yudhoyono/Jusuf Kalla. Waktu itu orang bertanya, "ngapain saja NU". PKB cerdik karena tahu berpasangan dengan siapapun Jokowi cukup berpeluang.

Di babak pertama ini Jokowi "kalah" dengan Prabowo. Jokowi yang mengundang decak kagum dalam pembukaan AG yang spektakuler, gagal meredam tuntutan partai koalisinya. Sedang Prabowo yang didera tuntutan berat PKS, justru berhasil meredam koalisinya itu dengan cara spektakuler. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Beredar Isi Percakapan Asusila Kepsek SMAN 7 Mataram yang Menyeret Baiq Nuril

Berita Populer