Kanal

Asap Setan dan Malaikat

Mujiburrahman -

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

MINGGU lalu, kita kembali membaca berita tentang asap yang mengganggu warga Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak. Beberapa sekolah di kota itu sempat diliburkan. Setelah itu, asap juga menyerbu Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya. Sore hingga pagi hari asap menyelimuti bumi dengan bau menyengat dan menutup jarak pandang. Akankah kota-kota lain menyusul?

Tahun 2015 lalu, Kalimantan (Selatan, Tengah dan Barat) dan Sumatra (Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sumatra Selatan) dikepung asap. Banyak warga yang terkena infeksi saluran pernafasan (ISPA). Sebagian sekolah dan bandara ditutup. Jadwal penerbangan kacau. Pemerintah mengerahkan banyak tenaga dan biaya untuk memadamkan titik-titik api. Bahkan, Presiden Jokowi turut terjun ke lapangan.
Bencana asap 2015 itu sangat parah selama September- Oktober.

Ketika masuk November, hujan mulai turun, dan dengan sendirinya asap lenyap. Warga pun mulai beraktivitas seperti biasa. Orang perlahan lupa, apa dan siapa yang menyebabkan kebakaran. Sejumlah perusahaan ditengarai bertanggung jawab atas pembakaran itu, tetapi apa nama perusahaan itu dan siapa pemiliknya masih ‘misterius’ pula.

Beruntung, musim kemarau 2016 dan 2017 tidak benar-benar kemarau. Hujan tetap membasahi bumi Kalimantan dan Sumatra. Asap tak lagi mendera warga. Namun, roda bumi terus berputar. Tahun 2018 ini, kemarau mulai ganas. Cuaca panas membakar. Sawah-sawah kering, dan padi layu sebelum berisi. Di pagi kemarau yang dingin, mulailah tercium bau asap menyengat. Asap dan kabut bercampur-baur.

Akankah asap menyerbu kembali ke segala penjuru? Entahlah. Yang jelas, inilah salah satu tugas negara terhadap warganya, melindungi rakyat dari serangan asap yang berbahaya itu. Bukankah negara ini didirikan untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”? Caranya; Cegah kebakaran dan pembakaran hutan; Padamkan titik-titik api dan tindak tegas para pembakar secara hukum.

Masalah asap ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah, apakah bisa mengendalikan keadaan, menegakkan keadilan dan menghukum para penjahat? Boleh jadi, keberhasilan atau kegagalan pemerintah akan mempengaruhi Pemilu 2019. Apalagi, asap tidak sama dengan gempa bumi yang murni bencana alam. Seperti telah disinggung, hutan dan lahan tidak hanya terbakar, tetapi juga dibakar.

Memang, asap, sebagaimana wujud alam lainnya, memiliki dua sisi. Asap ke(pem)bakaran hutan sejajar dengan asap rokok, asap pabrik, hingga asap kendaraan, dalam mencemari udara dan mengganggu kesehatan. Namun, dalam batas tertentu, pembakaran lahan berguna bagi manusia. Konon, lahan yang dibakar akan subur dan mematikan hama. Bau asap yang menyengat juga dapat mengusir nyamuk.

Namun, segala sesuatu ada batasnya. Sesuatu yang berlebihan dan melampaui batas akan berbahaya. Yang semula bermanfaat akan menjadi mudarat. Karena itulah, para ulama fiqh menetapkan kaidah: dar’u al-mafâsid muqaddam ‘alâ jalb al-mashâlih (mencegah kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat). Pembakaran lahan memang ada manfaatnya, tetapi mudaratnya jauh lebih besar.

Boleh percaya, boleh tidak. Dalam dunia mistik, asap juga memiliki dua sisi. Asap mengepul dengan bau menyengat, konon dapat memanggil jin dan setan. Praktik pedukunan sering dihubungkan dengan jenis asap ini. Di sisi lain, adapula asap dupa dari kayu gaharu yang harum semerbak. Sebagian tokoh agama suka menggunakannya. Konon, asap yang wangi itu dapat memanggil para malaikat untuk datang.

Adapun asap ke(pem)bakaran lahan dan hutan kiranya bukanlah masalah mistik. Tetapi boleh jadi, asap itu memanggil para setan untuk datang dan ramai-ramai menyerang masyarakat. Boleh jadi pula, orang yang sengaja membakar hutan dan lahan itu memang disuruh setan, dari golongan jin atau manusia! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Pengakuan Wanita Penabrak Anggota Polisi usai Terobos Rombongan Presiden Jokowi

Berita Populer