Kanal

Waspadai Kabut Asap

Ilustrasi - kabut asap menebal - banjarmasinpost.co.id/jumadi

BANJARMASINPOST.CO.ID  - DALAM sepekan terakhir, sering terjadi kabut asap di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kabut asap, berdampak terhadap pengguna lalu lintas, terutama sepeda motor. Seperti diwartakan BPost, Senin 27/8/2018 “Riyan Khawatirkan Penderita Sesak Napas”.

Sebagaimana dikutip, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar, I Gusti Nyoman Yudiana mengatakan, kabut asap disebabkan kebakaran lahan yang banyak terjadi di Kabupaten Banjar.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terkadang terjadi secara alamiah. Namun, ada pula kebakaran olahan, sengaja dibakar oleh oknum untuk membuka lahan baru. Wilayah yang rentan karhutla, di Tungkaran dan Martapura Barat.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Ikhwansyah mengungkapkan, hingga kini tidak ada peningkatan warga yang mengalami gangguan pernapasan. Namun demikian, pihaknya mengimbau masyarakat apabila tidak terlalu penting, tidak perlu keluar rumah.

Iklim seperti sekarang, memang rentan bahaya kebakaran hutan yang hebat, baik akibat faktor alam atau karena dibakar untuk membuka lahan baru. Berdasarkan pantauan satelit, titik panas di Kalsel terus meningkat.

Data dari Satgas Darat Posko Utama Karhutla BPBD Kalsel, dari 1 Januari - 25 Agustus 2018 terjadi 392 kali karhutla di Kalsel. Titik api ada di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Tim Siaga Karhutla, terdiri TNI, Polri, relawan dan masyarakat terus berjuang memadamkan api.

Di antara kabupaten dan kota di Kalsel yang titik panas terbanyak, Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru, sehingga perlu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi dan kabupaten/kota, untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan tersebut.

Memang, kabut asap hampir melanda di sejumlah wilayah yang ada hutan dan lahannya, seolah-olah bencana -- akibat faktor alam atau karena ulah tangan manusia-- ini menjadi fenomena tahunan, terus dan terus terjadi.

Pembakaran hutan, lahan pertanian dan perkebunan hingga eksploitasi alam lainnya, tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Padahal menjaga kelestarian alam, sangat dianjurkan demi keseimbangan dan mencegah kerusakan lingkungan.
Lingkungan hidup sebagai suatu sistem, komponennya bekerja secara teratur sebagai satu kesatuan, terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan dan tumbuhan) abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya).

Jika manusia terlalu berlebihan mengeksploitasi alam, tidak mustahil akan berdampak pada kerusakan ekosistem yang bekerja secara teratur tadi. Dapat dibayangkan, pada kemarau panjang seperti sekarang, kebakaran senantiasa mengintai dan krisis air terjadi di mana-mana.

Kabut asap berdampak luas pada kesehatan masyarakat, terutama saluran pernapasan sehingga harus diwaspadai. Yang lebih diwaspadai dan memprihatinkan, membakar hutan dan lahan secara sengaja, menyebabkan kabut asap. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Jelang Pernikahan Mantan, Pria di Kalimantan Tengah Mengamuk Bunuh Bibi dan Ibu Kandungnya

Berita Populer