Kanal

Memburu si Melon

Antre Gas Elpiji 3 kg - Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda

PASCAIDULADHA harga elpiji ukuran 3 kg tabung melon, kembali meroket. Di Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan di beberapa kota dan kabupaten di Kalsel lainnya harga gas melon yang biasanya Rp 25 ribu per tabung sudah mencapai Rp 30 ribu per tabungnya. Bahkan di Kabupaten Kotabaru harganya sudah menembus Rp 42 ribu per tabung.

‘Meledaknya’ harga elpiji 3 kg ini dikarenakan adanya sikap mau untung sendiri dari para pembeli. Sebab dari pihak Pertamina tidak mengurangi jatah elpiji 3 kg untuk Kalsel. Bahkan Pertamina menambah jatah elpiji 3 kg untuk Kalsel sebanyak 21.840 tabung dari angka konsumsi normal 85.000 tabung per hari.

Memang tidak ada larangan bagi warga di republik ini membeli elpiji. Namun membeli elpiji itu harus disesuaikan dengan aturan yang berlaku. Berdasarkan UU No 20 Tahun 2008 dan Perpres No 104 Tahun 2007, Permen SDM No 26 Tahun 2009, elpiji subsidi (ukuran 3 kg) hanya untuk rumah tangga berpenghasilan tidak lebih dari Rp 1,5 juta per bulan, sedangkan usaha memiliki omzet Rp 300 juta per tahun dilarang memakai elpiji subsidi tersebut.

Aturan ini sudah gencar disosialisasikan pemerintah, namun terkesan diabaikan. Pebisnis pencucian pakaian dengan menggunakan elpiji subsidi dapat menekan biaya listrik. Mereka cukup menggunakan gas elpiji untuk pengeringan pakaian laundry.

Kalau para pengusaha laundry mengonversi energi panas dari elpiji ukuran 12 kg tidak masalah. Tapi karena tidak ingin rugi --selisih harga elpiji subsidi dengan elpiji nonsubsidi (ukuran 12 kg) cukup besar-- para pengusaha lebih suka memilih elpiji 3 kg. Inilah yang menjadi masalah. Kondisi demikan tentu saja dapat berdampak terhadap warga miskin yang lebih berhak menikmati elpiji subsidi.

Tantri adalah contoh salah satu warga yang terzalimi. Warga HKSN Permain Kecamatan Banjarmasin ini sempat kesulitan membeli elpiji 3 kg. Untuk mendapatkan elpiji yang hanya digunakan buat memasak sehari-hari, Tantri harus pergi ke Jalan Kayu Tangi dan Jafri Zam-zam. Elpiji yang dicari Tantri memang dapat, tapi harga sudah naik, Rp 28 ribu per tabung.

Apa yang terjadi pada Tantri dan juga pada warga lainnya (mereka yang berhak mendapatkan elpiji 3 kg) harus dihentikan. Tim satgas pemko atau kabupaten harus turun bertindak. Tegur pengusaha yang melanggar. Jika membandel, Tim satgas tidak perlu ragu menindak tegas sesuai aturan.

Selain itu pemerintah juga harus membenahi kembali distribusi elpiji bersubsidi. Untuk ini ada baiknya pemerintah belajar ke Peru. Berdasarkan laporan executive summary International Institute for Sustainable Development (IISD) yang dirilis tahun lalu, Peru merupakan salah satu negara yang sukses menjalankan reformasi subsidi elpiji.

Lewat skema Fondo de Inclusión Social Energético (FISE), rumah tangga penerima manfaat subsidi di Peru selalu menerima voucher bulanan berisi bantuan keuangan untuk pengisian elpiji. Agar akurat, voucher diberikan kepada penerimanya melalui kode nomor di tagihan listrik mereka. Tagihan listrik dijadikan kriteria utama penerima subsidi yang dihitung dari konsumsi listrik bulanan rata-rata. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Warga Gerebek Guru Honorer Asal Madura yang Cabuli Siswi SMP di Dalam Mobil, Awal Kenalan di Medsos

Berita Populer