Kanal

Esai Zulfaisal Putera: Berpelukan

Zulfaisal Putera - istimewa

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Masih ingat boneka gendut lucu bernama Tinky-Winky (berwarna ungu), Dipsy (hijau), Laa-Laa (kuning), dan Po (merah)? Pada perut empat sekawan itu ada layar televisi dan pada kepala mereka ada antena.

Rumahnya berupa lapangan golf yang hijau dan sejuk. Ada kincir angin, kelinci, pancuran air, dan matahari. Mereka adalah boneka Teletubbies.

Film boneka yang populer di televisi Indonesia era 2000-an ini kembali disebut-sebut. Ini gegara Presiden Jokowi dan Ketua IPSI yang juga calon Presiden Prabowo Subiyanto usai menyaksikan pertandingan pencak silat Asian Games harus berpelukan karena dipeluk Hanifan Yudani Kusumah, atlet Pencak Silat yang meraih medali emas pada kelas C putra 55-60 kg.

Momen berpelukan kedua tokoh itu dapat perhatian luar biasa ketika di luar arena pendukung keduanya perang urat saraf. Kali ini tidak ada komentar nyinyir tentang peristiwa itu. Yang ramai adalah sebutan peristiwa tersebut sebagai sebagai efek Teletubbies. Jokowi, Prabowo, dan Hanifah berpelukan persis seperti Tinky-Winky, Dipsy, dan Po, walau pun tanpa Laa Laa.

Saya takakan masuk dalam telaah apa sebenarnya yang ada dalam kepala Jokowi dan Prabowo atau para pendukung keduanya atas peristiwa berpelukan itu. Apalagi ini bukan pelukan pertama.

Keduanya pernah berpelukan tahun 2012 saat Jokowi sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama. Kala itu, Prabowo dengan Gerindranya mendukung Jokowi.

Yang menarik, publik menyertakan boneka Teletubbies dalam mengomentari peristiwa itu. Para penonton fanatik film rekaan Anne Woods dan Andrew Davenport yang pertama kali muncul di Inggris tahun 1995 itu ternyata masih ingat dengan tingkah laku dan ucapan bersama keempat tokohnya itu di akhir cerita sehingga menjadi khas-nya, yaitu ‘berpelukan’!

Kampanye terus menerus tentang berpelukan yang muncul lewat film boneka Teletubbies itu tentu bukan kebetulan. Sutradaranya pasti punya alasan tersendiri di balik itu. Terlepas dari kontroversial adanya misi westernisasi, karena berpelukan dianggap budaya Barat, saya menganggap pesan yang disampaikan masih bisa ditolerir, yaitu pentingnya berpelukan.

Inilah penggalan esai Zulfaisal Putera berjudul Berpelukan. Selengkapnya baca di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (02/0/2018).

Editor: Idda Royani
Sumber: Banjarmasin Post

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer