Kanal

Energi Kebaikan

Mujiburrahman -

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Siapa kita?” “Indonesia!” teriak banyak penonton Asian Games 2018. Ajang olahraga ini telah berhasil membakar rasa bangga kita sebagai bangsa. Bangsa yang berhasil menggelar 465 nomor pertandingan dari 40 cabang olahraga, yang diikuti oleh lebih dari 11.000 atlet dari 45 negara.

Acara pembukaan dan penutupannya spektakular. Dan, terutama, kita berhasil meraih urutan ke-4 perolehan medali. Bangga itu perlu. Bangga tidak sama dengan sombong. Bangga artinya menghargai kelebihan diri sendiri tanpa menghinakan orang lain.

Tidak ada manusia yang sempurna, sebagaimana tidak ada bangsa yang sempurna. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan itulah yang digali dan ditampilkan sebagai kebanggaan, sambil tetap menghormati dan menghargai kelebihan pihak lain.

Dengan menyadari kelebihan diri, orang akan punya harga diri. Bangsa yang punya harga diri, layak dihormati. Apalagi, kita ini adalah bangsa mantan jajahan. Bung Karno pernah mengatakan, di zaman penjajahan, kita disebut sebagai bangsa kuli. Kuli adalah pekerja rendahan yang disuruh-suruh dan dibentak-bentak. Tak ada kebanggaan. “Hidup hanya menunda kekalahan” keluh Chairil Anwar.

Kini sudah 73 tahun kita merdeka. Di alam merdeka, kita bebas berpendapat dan berserikat. Apalagi sejak era reformasi 1998. Namun, media, termasuk media sosial, tampaknya lebih suka berita buruk. Berita palsu hingga ujaran kebencian makin sering disebarkan. Hidup makin galau. Karena itu, aneka suka cita dan berita gembira Asian Games seolah menjadi antitesis, laksana oasis di padang sahara.

Dengan kebanggaan sebagai juara, perbedaan di antara kita seolah larut dalam persatuan. Hal ini secara simbolik diperagakan oleh salah seorang peraih medali emas, Hanifan Yudani, yang memeluk Jokowi dan Prabowo bersamaan sambil dibalut bendera merah putih. Tindakan Hanifan ini seperti mengingatkan bahwa pertarungan pilpres 2019 tidak boleh merusak persatuan dan persaudaraan semua anak bangsa.

Perihal kesatuan dalam perbedaan ini juga dipaparkan dengan indah oleh peraih medali emas lainnya, Wewei Wita, dalam kolom otobiografisnya berjudul Pencak Silat Memeluk Semua yang Mencintainya. Ia menulis kalimat pembuka: “Segala hal tentang hidupku serupa paradoks. Aku seorang perempuan. Aku berdarah Tionghoa dan papaku warga negara Singapura. Aku bertarung untuk Indonesia.”

Demikianlah, slogan Bhinneka Tunggal Ika menjadi nyata. Para atlet Indonesia itu berasal dari beragam suku dan agama. Begitu pula para penonton yang bersorak-sorak mendukung mereka. Ada sejumlah atlet yang berjilbab, disemangati oleh para pendukung yang tak berjilbab. Ada atlet non-Muslim yang antusias didukung oleh para penonton Muslim, dan sebaliknya. Indonesia telah menyatukan mereka.

Mengapa? Ada yang berteori, orang-orang yang berbeda akan bisa bersatu jika menemukan musuh bersama. Atlet kita adalah wakil kita, sedangkan lawannya adalah ‘musuh’ bersama kita. Kalah atau menang, akan dirasakan bersama-sama. Karena itulah, selama musuh bersama itu ada untuk ditaklukkan, selama itu pula persatuan akan diteguhkan dan perbedaan akan mudah dilupakan.

Hanya saja, teori ‘musuh bersama’ itu terkesan negatif. Persatuan hanya hadir jika ada musuh yang harus dikalahkan. Seolah tanpa musuh, takkan ada persatuan. Seolah persatuan harus menelan korban. Logikanya adalah menang-kalah, kawan-lawan. Dunia jadi terbelah. Dalam bentuk ekstremnya, dunia seolah hitam-putih. Ini bisa berbahaya, seperti teroris yang melihat diri laksana malaikat melawan setan.

Untuk menghindari sisi negatifnya, sebagian orang menjadikan musuh bersama itu bukan orang, tetapi hal-hal buruk dalam kehidupan masyarakat. Kebodohan, kemiskinan, kemalasan, narkoba, korupsi dan hal-hal buruk lainnya, adalah musuh bersama. Semua hal buruk itu tidak mengenal suku, agama atau bangsa. Jika semua musuh bersama itu berhasil dikalahkan, maka semua warga akan dimuliakan.

Namun, barangkali akan lebih positif jika teorinya bukan musuh bersama, melainkan perlombaan dalam berbuat kebaikan. Semua manusia menyukai kebaikan. Ajang olahraga, sebagaimana ajang kehidupan lainnya, bagi kita sebagai warga negara, warganet dan warga dunia, adalah medan perlombaan untuk berbuat yang terbaik. Energi kebaikan itulah seharusnya yang mempersatukan kita! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Haringga Sirla Tewas Dikeroyok, Bermula dari KTP Korban Dirazia Sejumlah Suporter Persib Bandung

Berita Populer