Kanal

Jembatan Samhurang HST Akhirya Diputus Warga, Alasannya Menyelamatkan Kayu Ulin

Jembatan Samhurang, yang patah karena diterjang sampah kayu yang dibawa arus deras, dan terpaksa diselamatkan warga dengan mencopoti tiang dan kayu-kayu tersisa agar tak ikut hanyut terbawa arus sungai, Senin (3/9/2018). - Istimewa

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Jembatan penyeberangan di Desa Samhurang, Kecamatan Labuanamas Utara, Hulu Sungai Tengah akhirnya terpaksa diputus oleh warga.

Jembatan sepanjang sekitar 50 meter yang menghubungkan Desa Samhurang ke Binjai Pamangkih tersebut terpaksa dicopoti warga bagian tiang dan lantainya karena dikhawatirkan hanyur terbawa arus air, yang sampai Senin (3/9/2018) masih deras.

Sebelumnya, jembatan tersebut patah diterjang sampah kayu dan bambu, dan membuat sejumlah tiang penyangganya hanyut terbawa arus air 30 Agustus 2018 lalu.

Baca: Sujiwo Tejo Sebut Rantai Kekacauan Soal Ustadz Abdul Somad Batalkan Ceramah Karena Dugaan Intimidasi

Banyaknya sampah kayu yang larut dan menumpuk di sekitar jembatan, membuat bagian tengah bangunan jembatan kayu itu roboh. Akhirnya, warga berinisiatif mengamankan bagian jembatan lainnya, agar tak ikut hanyut dibawa arus deras.

Baca: Jadwal Siaran Langsung (Live) Trans 7 MotoGP Italia 2018 di Sirkuit Misano San Marino Minggu Ini

“Kami sempat mencoba melakukan gotong royong, menyingkirkan sampah kayu. Tapi saking banyaknya sampah yang tersangkut, kami menyerah. Sulit menyingkirkannya pakai tenaga. Akhirnya kami lakukan upaya penyelamatan bagian jembatan yang dikhawatirkan hanyut,” kata Kades Samhurang,

Murjani. Diakui keberadaan jembatan penyebarangan tersebut sangat penting, sebagai sarana menyeberang ke desa Binjai Pamangkih, dan sebaliknya dari Binjai Pamangkih ke Desa Samhurang.

Baca: Kagetnya Anies Baswedan Saat Kunjungi Jonatan Christie karena Lihat Kondisi Rumahnya

Kondisi jembatan sendiri sebelumnya sudah rapuh, karena usianya yang sudah tua dan seringnya diterjang banjir.

“Kami Pemerintah Desa Samhurang sudah mengusulkan rehabilitasi saat Musrenbang. Karena kondisinya sekarang tidak mungkin untuk di rehabilitasi lagi, kami memohonkan pemerintah kabupaten HST membangunkan jembatan baru,” kata Murjani.

Sebelumnya, diberitakan, akibat putusnya jembata Samhuran akibat dihantam sampah kayu yang terbawa arus sungai, warga Samhurang dan Binjai Pamangkih terpaksa memutar lebih jauh, yaitu sekitar satu kilometer ke jembatan alternatif.

Baca: Begini Kronologis Penangkapan Kawanan Pencuri Sarang Walet di Lamandau, Polisi Pun Tembak Pelaku

Mengenai solusi tas tak berfungsinya lagi jembatan tersebut, Kepala Bina Marga DInas Pekerjaan Umum dan Pengembangan Wilayah HST, Jauhari, yang dikonfirmasi BPost menyatakan, pihkanya sudah melakukan pemantauan ke lapangan, serta pendataan bersama aparat desa.

Solusinya, adalah membangun jembatan gantung karena jika masih menggunakan konstruksi sebelumnya, di khawatirkan kembali rusak kena arus.

Masalahnya, kata Jauhari, sungai di desa tersebut merupakan aliran air dari sungai Benawa dan Sungai Barabai, yang jika air dalam kondisi meluap, sering membawa sampah keras. Disebutkan, untuk membangun jembatan gantung dengan panjang sekitar 50 meter, memerlukan dana besar, minimal Rp 1 miliar.

“Untuk dimasukkan pada APBD Perubahan 2018 ini tidak memungkinkan, karena dananya tak tersedia. Kami masukkan dalam perencanaan APBD 2019 mendatang,” kata Jauhari.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post

Anjing Milik Korban Pembunuhan di Bekasi Tak Mau Makan dan Menangis, Pakar: Bisa jadi Saksi

Berita Populer