Kanal

Masih Banyak Warga Tanahbumbu Enggan Berikan Vaksin MR Untuk Anaknya karena Alasan Ini

Seorang siswa SDN Barabai Timur I menangis saat diberikan vaksin MR oleh petugas kesehatan HST, Rabu (1/8/2018) - banjarmasinpost.co.id/hanani

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat sempat mengeluarkan fatwa haram terkait penggunaan vaksin MR (Measles Rubella) yang merupakan produk dari Serum Intitute Of India (SII).

Sejak saat itu pula, banyak masyarakat yang enggan anaknya divaksin karena menghawatirkan dan haram. Para orangtua pun memilih tak melakukan vaksin tersebut dan tetap berdoa agar anak-anaknya tetap sehat tanpa menggunakan vaksin itu.

Alfi misalnya, warga Tanahbumbu ini masih tidak mau menggunakan vaksin tersebut karena takut. Terlebih lagi di daerah lain bahkan di media sosial tersebar beberapa dugaan setelah divaksin. Sebab itu, dirinya tambah takut untuk memberikan vaksin tersebut.

Dia berharap ada vaksin lain dan halal. Sebab dalam vaksin yang ada telah dinyatakan mengandung babi sehingga dia tak ingin anaknya di vaksin.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG! Live Streaming PSIM Yogyakarta vs PSBS Biak Liga 2 2018 via Youtube

Baca: Jadwal Lengkap MotoGP San Marino 2018, Akhir Pekan Ini, Semangat Valentino Rossi

"Saya takut dan haram. Lebih baik tetap berdoa agar anak-anak kami sehat dan dilindungi dari penyakit apapun, Aamiin. Sekarang ini saya masih memilih untuk tidak memberikan vaksin tersebut," katanya.

Sementara itu, beberapa hari lalu, fatwa MUI kembali mengeluarkan fatwa baru yang membolehkan pemberian vaksin MR tersebut karena beberapa faktor. Hal itu dikui Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Tanahbumbu, H Abdul Basit, Rabu (5/9/18).

Dia mengatakan terkait fatwa tentang penggunaan vaksin MR untuk imuniasi sesuai ketentuan hukum, pertama, penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram. Kedua, Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya memanfaatkan bahan yang berasal dari babi.

Ketiga, namun Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena beberapa faktur yaitu ada kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya
vaksin yang halal.

Baca: Siapakah Habib Usman bin Yahya Menikahi Kartika Putri, Lihat 5 Faktanya, Terkait Raffi Ahmad

Baca: Komentar 2 Mantan Istri Habib Usman bin Yahya yang Menikahi Kartika Putri, Nida: Semoga Bahagia

Keempat, kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada nomor 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci. Sebab itu, rekomendasinya, Pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.

Produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan.

Pemerintah harus mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.

"Fatwa ini ditetapkan pada 20 Agustus 2018. Bila fatwa ini dikemudian hari ternyata membutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Fatwa ini membolehkan penggunaannya karena keterdesakan," katanya. (banjarmasinpost.co.id/man hidayat)

Penulis: Man Hidayat
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post

8 Pengakuan Tersangka Pembunuhan di Bekasi: Sakit Hati Dibangunkan saat Tidur Pakai Kaki

Berita Populer