Kanal

Dinkes Undang MUI dan Unsur Masyarakat Lakukan Evaluasi Vaksinasi Campak dan Rubella

Pertemuan evaluasi pelaksanaan vaksin MR dan Sosialissi Fatwa MUI Nomor 33/2018 di Auditorium Pemkab HST, Kamis (6/9/2018). - banjarmasin post group/ hanani

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah berupaya melaksanakan program pemerintah pusat, yaitu melaksanakan vaksinasi campak dan rubella terhadap anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun.

Namun, sejak dilaksanakan Agustus hingga 5 September 2018, baru terealisasi 20.281 atau 28,81 persen dari target sasaran sebanyak 70.579 anak.

Kepala Dinas Kesehatan HST, drg Kusudiarto, Kamis (6/9/2018) menjelaskan, semestinya, untuk sekolah-sekolah umum target sudah selesai Agutus tadi, dan sisanya dilanjutkan ke pesantren-pesantren dan luar sekolah, seperti posyandu.

Kenyataannya, banyak juga sekolah yang minta ditunda, dengan alasan orangtua mereka masih ragu.

Masalahnya, sekalipun Fatwa MUI sudah terbit dan ada poin  yang membolehkan umat Islam menggunakannya,  masih banyak orang tua yang belum yakin, karena terkait adanya unsur babi dalam proses pembuatannya.  

“Untuk itu kami minta dukungan semua pihak, menyukseskan program ini. Khususnya MUI HST untuk memberi penjelasan terkait Fatwa Nomr 33 Tahun 2018,”kata Kusudiato, saat Pertemuan evaluasi Pelaksanaan Kampanye Imunisasi MRdan Sosialisasi Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 di ruang Auditorium.

Pertemuan tersebut dihadiri Kepala KemenagHST  H Saipudin, Ketua MUI HST KH Wajihuddin Saleh dan para ulama , Plt Bupati HST HA Chairansyah, Ketua DPRD HST H Saban Effendi, serta perwakilan TNI/Polri , jajaran Dinkes HST, puskesmas serta unsur masyarakat lainnya.

Kusudiato menyebut, Cakupan tertinggi realiasi vaksin ada di Kecamatan Hantakan, 52,6 persen, Tandilang, 51,6 persen, Barabai 43 persen dan paling renah Kecematan Labuanamas Selatan, 4,9 persen. Secara provinsi, HST berada di peringkat ke enam.

Disebutkan, pemerintah pusat menargetkan 2020 Indonesia bebas campak dan rubella, sebgaimana penyakit cacar bopeng yang telah berhsil dieleminasi. Sebelumnya, pada 2017, vaksinasi Mr dilakukan di Pulau Jawa. Untuk 2018, dilaksanakan di Sumatera, Kalimantan, Maluku Sulawesi dan Papua.

Mengapa anak harus divaksin, jelas Kadinkes karena penyakit MR sangat cepat menular dan bisa menyebabkan kecacatan seperti tuli, katarak, kelainan bawaan lainnya dalam kandungan,  hingga kematian.

Halaman
123
Penulis: Hanani
Editor: Rendy Nicko
Sumber: Banjarmasin Post

Fenomena Air Terjun Sedudo Nganjuk Berubah jadi Hitam Pekat, Pengunjung Dilarang Mandi

Berita Populer