Kanal

Dinkes Undang MUI dan Unsur Masyarakat Lakukan Evaluasi Vaksinasi Campak dan Rubella

Pertemuan evaluasi pelaksanaan vaksin MR dan Sosialissi Fatwa MUI Nomor 33/2018 di Auditorium Pemkab HST, Kamis (6/9/2018). - banjarmasin post group/ hanani

Sementara itu, Ketua MUI HST KH Wajihuddin Saleh, kepada para peserta sosialisasi Fatwa MUI memberikan penjelasan mengenai dalil-dalil baik Alquran maupun hadisT nabi SAW, hingga pendapat para imam empat mashab hingga pendapat ulama, terkait kesimpulan fatwa MUI pusat tersebut.

Menurutnya, perbedaan fikih dalam hal pandnagan terhadap masalah tersebut, merupakan khilafiah. Terkait adanya unsur babi yang digunakan saat proses pembuatan vaksin, jelas dia tetap haram.

Meski demikian, pada saat ini menjadi  boleh  digunakan  karena adanya kondisi darurat syar’iyyah, yaitu belum ditemukan vaksin yang halal dan suci.

Selain itu, merujuk pada keterangan dari ahli, yang berkompeten dan dipercaya tentang bahaya jika tidak dilakukan imunisasi, serta belum ditemukan vaksin yang halal. Namun, jika ditemukan vaksin halal dan suci fatwa boleh ini otomatis tak berlaku lagi.  

Sementara itu, Kepala  Kemenag HST H Saipudin menyatakan, khusus untuk sekolah-sekolah agama, pihaknya telah melaksanakan imbauan kepada sekolah-sekolah dan orangtua siswa agar tak ragu memvaksin anak-anak mereka, dengan tujuan mencegah penyakit menular tersebut dan agar tak menjadi generasi yang lemah.

Meski demikian, tidak dibolehkan juga  memaksakannya jika ada orangtua yang punya pendirian dan keyakinan berbeda. “Mari kita bantu program pemerintah, yang tujuanya untuk melindungi masyarakat, khususnya generasi penerus bangsa, dari penyakit yang membahayakan,”kata Saipudin.

Pada kesempatan itu, dr H Muhammad Asnal, juga memberikan pandangannya secara medis terkait pro kontra vaksin MR. Menurutnya, terkait program vaksin, Dinkes HST pun diwajibkan melaksanakan program pemerintah tersebut.

Dijelaskan, isi vaksin adalah kuman yang telah dilumpuhkan. Dijaman sekarang, perkembangan kuman makin banyak dan resisten terhadap obat.

Adapun cara pembuatannya, jelas Asnal, bersinggungan dengan unsure babi pada saat proses pembuatannya, digunakan pankreas babi sebagai media untuk mempercepat pembuatan vaksin.

“Namun, unsur babi itu tidak ada lagi, pada proses akhir yaitu pembersihan,  hingga menjadi vaksin secara murni sudah tidak unsur babi lagi,”jelasnya.

Halaman
123
Penulis: Hanani
Editor: Rendy Nicko
Sumber: Banjarmasin Post

5 ABG Digerebek Hendak Gelar Pesta Seks di Makassar, 3 Gadis Masih di Bawah Umur

Berita Populer