Kanal

Imunisasi dan Peran Ulama

Wakil Ketua I TP PKK Kota Banjarbaru Hj Eny Apriyati Darmawan Jaya yang juga seorang petugas kesehatan mengikuti kegiatan pelayanan imunisasi Measles Rubella (MR) atau Campak dan Rubella - istimewa/humas pemko Banjarbaru

PROGRAM imunisasi untuk mencegah campak atau Measles dan Rubella (MR) yang digelar pada Agustus-September 2017 memicu kembali perdebatan tentang pro dan kontra vaksinasi. Disaat banyak orang membicarakan pro dan kontra vaksin MR, hal mengejutkan terjadi di Kota Banjarbaru.

49 kasusnya sudah menimpa anak usia sekolah tingkat menengah pertama di Banjarbaru. Semua penderita perempuan. Diketahui, dua pondok pesantren (ponpes) di Banjarbaru terdeteksi santriwatinya terserang rubella yaitu 30 di pesantren satu dan 19 di pesantren dua. Namun semuanya sudah dilakukan karantina.

Seperti keterangan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, Agus Widjaja, campak dan rubella menyebar melalui udara sehingga penderita harus mengurung diri sendiri di rumah atau kamar agar tak menjangkit kepada orang lain. Dan semua yang di pesantren terserang rubella sudah diobati dan sudah dilakukan karantina.

Kasus di Banjarbaru, seluruh anak yang tertular campak rubella merupakan santriwati. Sosialisasi vaksin MR ke lingkungan ponpes pun dipertanyakan, apakah benar-benar maksimal. Untuk itulah peran Kementerian Agama (Kemenag) sangat vital dalam sosialisasi program vaksinasi MR ini. Sebab, peran Kemenag dinilai penting untuk memberikan pandangan dari segi agama dari pemuka agama sebelum mereka memutuskan untuk memasukan MR ke tubuh anak-anaknya.

Terlebih adanya Fatwa MUI No 4/2016 menjelaskan bahwa imunisasi dibolehkan sebagai bentuk upaya mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Akan tetapi, vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan bahan halal dan suci. Nah, bagi anak yang menuntut ilmu di sekolah Islam, mereka tentunya masih meragukan vaksin MR ini, terkait halal dan haram kandungan vaksin masuk ke tubuh umat Islam.

Di sini peran Kemenag dan para ulama yang bernaung dalam MUI menjadi sangat penting. Pasalnya bila pemerintah hanya menjelaskan urgensi sebuah program kesehatan seperti vaksin MR hanya melalui pendekatan keilmuan, maka pelaksanaanya dinilai kurang efektif. Apalagi bila di tengah masyarakat sudah muncul keraguan terhadap program vaksin tersebut, maka penolakan pun akan muncul. Jadi, peran ulama sangat penting dalam membantu sosialisasi vaksin MR sehingga tak ada lagi keraguan di masyarakat. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Ditemukan Tewas di Sawah, Mahasiswi Aceh Ternyata Dibunuh Pacar karena Alasan Ini

Berita Populer