Kanal

Pekerja-Pembelajar

Rektor UIN Antasari Mujiburrahman - IST

OLEH: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

SETELAH lama dinanti-nanti, bulan September 2018 ini, pemerintah akhirnya membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Tak dapat disangkal, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau yang disebut Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan impian banyak orang, lebih-lebih bagi para sarjana. Menjadi PNS nyaris identik dengan jaminan kesejahteraan dan kedudukan terhormat di masyarakat.

Hanya saja, lowongan yang tersedia untuk CPNS sangat sedikit dibanding jumlah pelamar, dan tidak terbuka bagi segala macam jenis keahlian. Jumlah yang akan diterima dari berbagai jenis keahlian itu juga bervariasi. Ada yang banyak, dan ada pula yang sedikit. Belum lagi persayaratan administratif yang makin ketat, seperti akreditasi program studi dan batas terendah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).

Besarnya minat masyarakat untuk menjadi PNS adalah peluang sekaligus tantangan bagi bangsa kita. Peluang karena dengan banyaknya pelamar, pemerintah dapat meluluskan orang-orang terbaik. Sejak diberlakukannya tes elektronik dalam bentuk CAT (Computer Assisted Test) dengan ambang batas nilai tertentu, tes CPNS semakin objektif dan transparan. Kolusi dan nepotisme mulai dapat dikikis.

Di sisi lain, demam ikut tes CPNS menunjukkan betapa sedikit lapangan kerja yang kini tersedia, dan pekerjaan selain PNS masih dirasa kurang menjanjikan. Ini merupakan tantangan bagi pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi (PT). Apa kebijakan pemerintah agar jumlah lapangan kerja bertambah?

Bagaimana PT mendidik mahasiswa agar mampu memasuki dunia kerja?
Dahulu ada istilah ‘sarjana siap pakai’. Sekarang, gagasan seperti itu semakin sulit diwujudkan jika yang dimaksud adalah, setelah tamat dari PT, alumni tanpa harus belajar lagi, sudah siap dan lihai untuk bekerja di bidangnya. Hal ini sulit karena kehidupan kita mengalami perubahan yang sangat cepat, yang disebut ‘disrupsi’, yakni perubahan yang membuat kita tidak bisa menjalani hidup seperti biasa.

Januari 2016, World Economic Forum menerbitkan The Future of Jobs: Employment, Skills, Workforce Strategy for the Fourth Industrial Revolution. Di sini disebutkan 10 kecakapan utama yang diperlukan dunia kerja pada 2020, yaitu mampu memecahkan masalah yang kompleks, mampu mengelola, berpikir kritis, kreatif, bekerjasama, cerdas emosi, memutuskan, melayani, bernegosiasi dan berpikir fleksibel.

Selain itu disebutkan, pada 2020, 52 persen lapangan kerja membutuhkan kecakapan berpikir yang fleksibel, kreatif, logis, sensitif dan visual. Pekerja harus mampu menggunakan berbagai hal dengan berbagai cara; mampu menemukan ide-ide cerdas dalam berkegiatan dan memecahkan masalah; mampu membaca kemungkinan masalah ke depan, dan membayangkan yang bakal terjadi ketika sesuatu diatur ulang.

Saya kira, jika semua kecakapan di atas digabung, maka kecakapan tersebut adalah kemampuan dan kemauan seseorang untuk terus belajar dan menggumuli pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Dunia semakin memerlukan orang-orang yang tidak hanya pandai menyerap informasi, tetapi juga mengolah, memanfaatkan dan menciptakan sesuatu dari informasi itu. Dunia menuntut kita untuk kreatif.

Tuntutan akan kemauan dan kemampuan untuk terus-menerus belajar itu menunjukkan bahwa tugas lembaga pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai itu kepada para peserta didik. Teori ‘kuno’ tentang pendidikan seumur hidup ternyata tak pernah usang. Sabda Nabi SAW, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat” juga terus relevan. Ijazah, nilai, gelar, hanyalah perhentian sementara alias halte.

Lebih dari itu, gairah untuk terus-menerus belajar dan berkarya itu juga menunjukkan bahwa pendidikan diberikan bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan untuk menjalani hidup. Pekerjaan adalah bagian yang amat penting dari hidup kita, tetapi bukan keseluruhan hidup itu sendiri. Manusia bekerja untuk menikmati, menghargai dan memaknai hidup, bukan hidup untuk bekerja belaka.

Alhasil, dunia kerja membutuhkan manusia yang tidak hanya siap pakai, tetapi juga siap belajar, yakni siap berkembang dan mengembangkan diri tiada henti. Kita perlu pekerja-pembelajar. (*)

Editor: Didik Trio
Sumber: Banjarmasin Post Edisi Cetak

Viral Wanita Terobos Rombongan Presiden Jokowi dan Acungkan Jari Tengah, Tabrak Polisi yang Mengawal

Berita Populer