Kanal

Retribusi RPH di Banjang HSU Masih Belum Diberlakukan, Ternyata Ini Alasannya

Rumah Potong Hewan (RPH) di Kecamatan Banjang HSU - banjarmasinpost.co.id/reni kurniawati

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI – Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) memiliki Rumah Potong Hewan (RPH) di Kecamatan Banjang, dan saat ini masih belum maksimal dimanfaatkan mengingat masih ada penjagal yang memilih menyembelih di tempat pemotongan masing masing.

RPH yang berada di Desa Palanjungan Sari Kecamatan Banjang Kabupaten HSU memiliki bangunan cukup besar yang memiliki fasilitas pos jaga dan rumah uuntuk pengelola di bagiaan depan. 

Bangunan utama dan kandang di bagian belakang, bangunam dikelilingi oleh pagar permanen cukup tinggi. RPH memang biasa digunakan hanya pada saat malam dan pagi buta, para penjagal biasa membawa kerbau atau sapi untuk disembelih dan langsung dibawa kembali ke pasar. Tak heran saat siang hari RPH memang tidak ada aktifitas. 

Ardiansyah warga sekitar yang juga menjadi penjaga RPH mengatakan dalam satu minggu biasanya ada tiga hingga lima penjagal yang datang dengan membawa satu hingga tiga ekor sapi atau kerbau.

 “Masih belum setiap hari ada yang memotong di RPH, karena belum semuanya yang memotong disini,” ungkapnya.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG! Live Streaming Japan Open 2018, Marcus/Kevin vs Rusia

Baca: Link Live Streaming Japan Open 2018 Hari Kedua - Marcus/Kevin vs Rusia Main Pukul 15.00 WIB

Di dalam bangunan utama terdapat lima tempat untuk pemotongan hewan yang dilengkapi keran air dan beberapa besi untuk menggantung daging, sehingga dalam satu waktu bisa langsung memotong lima ekor sapi.

Terdapat juga ruang tambahan yang berfungsi untuk mencuci bagian jeroan hewan sehingga saat dibawa ke pasar sudah dalam keadaan bersih. Bagi yang ingin memotong daging kecil kecil juga disediakan meja panjang.

Limbah pemotongan berupa darah dan kotoran langsung melalui saluran yang menghubingkan ke IPAL dibagian belakang bangunan utama.

"Para penjagal sudah membawa langsung orang yang tukang memotong, jadi setiap pemilik hewan punya penjagal masing masing," ungkapnya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Pertanian HSU I Gusti Putu Susila mengatakan, pembangunan RPH diharapkan agar para penjagal bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik untuk ptises penyembelihan hewan.

Ditambah agar limbah dari pemotongan hewan tidak mencemari lingkungan karena tidak melalui proses seharusnya. Dengan adanya RPH diharapkan Pemerintah Daerah Kabupaten HSU bisa mendapatkan penambahan retribusi.

Putu menabahkan untuk bisa mengajak seluruh penjagal memanfaatkan RPH memang perlu pendekatan lebih, meyakinkan bahwa RPH yang telah dibangun oleh pemerintah adalah untuk kebaikan para penjagal. 

Baca: Pendaftaran CPNS 2018 di sscn.bkn.go.id, Segini Gaji Jika Lulus CPNS, Bisa Sampai Rp 39,3 Juta!

Baca: Syarat Wajib untuk Jabatan Khusus Jelang Penerimaan CPNS 2018, Pendaftaran Hanya di sscn.bkn.go.id

Selama ini beberapa penjagal masih memilih memotong hewan di tempat pribadi, karena dekat menghemat waktu tenaga dan biaya.

"Para penjagal yang menggunakan RPH juga memiliki orang kepercayaan sendiri untuk menyembelih dan membersihkan daging, sehingga pemerintah daerah tidak menyiapkan tenaga penjagal lagi," ungkapnya. 

Dinas terkait hanya menyediakan tenaga untuk menjaga keamanan RPH, sedangkan aktivitas pemotongan hewan dilakukan oleh penjagal dan kelompok masing masing. 

Peraturan Daerah yang mengatur masalah retribusi RPH juga telah ada, namun karena pemanfaatannya belum maksimal maka retribusi masih belum diberlakukan. "Nanti akan kami berlakukan saat seluruh penjagal sudah memoting hewan di RPH, secara aturan teribusi untuk setiap satu ekor hewan sebesar Rp 15.000," ungkapnya. (banjarmasinpost.co.id/nia)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Banjarmasin Post

VIDEO John Kei, Sosok Pembunuh Sadis Penghuni Sel Khusus Nusakambangan yang Kini Bertobat

Berita Populer