TOPIK

Puisi Banjarmasin Post

  • Dahaga: Tegak Lurus dengan Arek Lancor

    Maka, kubiarkan tubuh ini mengendarai malam Seperti penjual kopi, perlahan mulai mencemaskan pelanggan Barangkali inilah caraku meluruskan kerinduan

  • Dahaga: Gina

    Gerimis di tubuhmu harga mati,Waktu sandaran batu-batu, beli kain tak pasti, Laut, tak cukup tahu tak memilah, akar hirup, berbelah ujung kayu, Amarah

  • Dahaga

    Setelah berbulan-bulan laut, menyembunyikan semerbak karangnya, kini sampailah aroma itu ke lambung kampung, kembalilah bapak menyerang ombak

  • Dentang dari Loji

    Karya puisinya terbit dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Simpang Lima (2009), Kembang Mata (2014), dan Ironi Bagi Perenang (2016)

  • Memahat Sejarah di Punggungmu

    Para tukang-tukang dari masa lalu, bergegas memahat sejalan sejarah di punggungmu, dengan tajam pahat, kapak, parang, palu dan paku

  • Pada Sebuah Kepulangan

    Hujan yang pecah di matamu adalah basah yang kerap menanam lumpur pada tanah

  • Sampai Kapan

    Sampai kapan kita akan selalu seperti burung hinggap ke dahan lalu kembali terbang

  • Pertemuan

    Dan kita pun kembali dipertemukan di lereng saroka Tempat hujan menanam basah pada tanah

  • Catatan Warung Kopi

    Seperti sore ini kita pun memulangkan segala resah dan gundah pada warung kopi

  • Anak Merantau dengan Menunggangi Sepatu

    Aku ingin merantau bersama sepatu yang kutunggangi, saat hari-hari tak mampu memangutku dengan egois.

  • Buluh China dan Anak-anak

    Kami anak-anak Buluh China, anak-anak aliran sungai Kampar. Darah kami adalah darah bagi rimba-rimba dan sungai.

  • Anak-anak, Ketika Pagi Tak Terulang Kembali

    Kota ini menjadi sebuah kelereng yang berganti tiap aku kembali. Diam dan berjalan.

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help