Pon XVIII Riau
Hari Ini 7 Emas Dayung Diperebutkan
Sebanyak tujuh medali emas cabang olahraga dayung PON XVIII, Selasa (11/9/2012), diperebutkan di arena dayung
Sejumlah pedayung unggulan melaju ke final nomor jarak 200 meter canoeing putra dan putri tersebut. Tuan rumah Riau, Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta masing-masing lolos di lima nomor. Adapun Kalimantan Tengah, Papua, dan Papua Barat empat nomor, serta Kalimantan Selatan dan Jambi tiga nomor.
Persaingan ketat diperkirakan terjadi antara Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, dan Jambi. Pada nomor kayak dobel (K2) putra dan putri, pasangan Jawa Barat dan Kalimantan Tengah tampil sebagai yang tercepat pada masing-masing heat.
Pasangan Jawa Barat, Deni Sandri-Chandra Destina dipastikan menjadi lawan berat Kalimantan Tengah yang menurunkan duet penghuni tim nasional Silo-Gandi. Adapun di putri, pasangan Nurfrida-Seni Gantiani (Kalimantan Tengah) akan menghadapi Kanti Santyawati-Masrifah.
Pada nomor kayak empat (K4) putra, persaingan sengit diperkirakan terjadi antara Jawa Barat dan Riau. Kuartet Jawa Barat, Asep Hidayat, Jaslin, Andri Agus, dan Sutrisno adalah penghuni pemusatan latihan nasional (pelatnas) dayung dan lebih diunggulkan, namun Riau tak gentar. Pelatih Tim Riau, M Amin mengatakan, meski relatif berat, timnya akan memberi perlawanan.
Selain di nomor K4 putra, Riau berharap tambahan medali dari nomor kano tunggal (C1). Anwar Tarra (Sulawesi Selatan) dan Spens Stuber Mehue (Banten) lebih diunggulkan di jarak 200 meter, namun peraih dua emas SEA Games Eka Octa Rorianus (Riau) membuat perebutan medali emas di nomor ini lebih sengit.
Persaingan antar penghuni pelatnas juga terjadi di nomor kayak tunggal (K1) putri. Sinche Lithasova Yom yang memperkuat Banten akan menjadi batu sandungan Rasima yang membela Jambi. Keduanya berhak menempati lintasan utama (tiga dan empat) setelah tampil sebagai yang tercepat di babak penyisihan.
Muda usia
Tampil dengan sebagian besar atlet usia remaja, Riau dan Papua Barat tak menargetkan meraih medali di nomor putri. Apalagi mereka harus bersaing dengan pedayung senior penghuni pelatnas. Kesempatan tampil di PON diharapkan menambah pengalaman bertanding sebagai bekal di masa depan.
Pelatih tim Papua Barat asal Portugal, Rui Manuel Lemos mengatakan, mayoritas pedayung putri Papua Barat berusia 15-19 tahun. "Mereka disiapkan untuk pekan olahraga pelajar tahun depan dan PON berikutnya. Kesempatan ini penting untuk masa depan mereka," ujarnya.
Di antara pedayung Papua Barat yang menonjol adalah Yunita Kadop. Di final nomor K1 putri, Yunita akan menghadapi seniornya, Rasima, Sinche, dan Siti Mariam. Namun, catatan waktu Yunita di penyisihan relatif bersaing, yakni kurang dari satu detik dari raihan Rasima yang mencatat waktu 45,67 detik.
"Kami tak memberi target ke pedayung putri. Mereka sebagian besar adalah siswa PPLP (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar) yang masih berusia 15-17 tahun. Lolos ke final dan dapat medali sudah lebih dari harapan kami," tutur M Amin.