Lulusan ISI Denpasar Berpeluang Melatih Tari di Jepang
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar berpeluang melatih dan membina kesenian Bali terutama tabuh dan tari di Jepang karena
"Di Jepang sedikitnya ada 53 sanggar seni yang mengajar tabuh dan tari Bali," kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S.MA di Denpasar, Rabu.
Ia mengatakan, setiap sanggar mempunyai 75-100 siswa yang mempelajari tabuh dan tari Bali. Para siswa itu berasal dari berbagai latar belakang.
Hal itu pula, katanya, menjadi salah satu penyebab Program Dharmasiswa Pemerintah Indonesia melibatkan mahasiswa mancanegara untuk melanjutkan pendidikan di ISI Denpasar yang 50 persen di antara mereka berasal dari Jepang.
Program Dharmasiswa itu melibatkan mahasiswa berasal dari 40 negara, namun separuhnya berasal dari Negeri Sakura itu.
"Mereka setelah menamatkan pendidikan nonsarjana itu kembali ke negaranya, sebagai bekal untuk membina dan mengembangkan kesenian Bali di negaranya," ujar Rai.
Mahasiswa asing yang mendalami tabuh dan tari Bali sebanyak 478 orang, 205 orang di antaranya berasal dari Jepang. Jumlah itu adalah total mereka belajar selama kurun waktu 13 tahun periode 1999-2012.
Dengan demikian, katanya, lulusan ISI Denpasar mempunyai peluang yang sangat besar menjadi pelatih dan pembina seni Bali di Jepang dan sejumlah negara lainnya, mengingat kesenian Bali berkembang pesat di luar negeri.
Selain Jepang, katanya, juga di Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Eropa.
Selain itu, katanya, hingga saat ini sekitar 17 jenis instrumen musik tradisional Bali (gamelan) berkembang di mancanegara yang membutuhkan tenaga-tenaga terampil.
"Tamatan ISI diharapkan mampu menangkap peluang sekaligus menjawab tantangan tersebut," kata Prof Wayan Rai.
Sumber :
ANT