Bahasa Indonesia (Sudah) Rusak?

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan persatuan. Semua orang Indonesia seharusnya bisa menggunakannya, baik secara lisan (dalam percakapan) maupun secara tertulis (dalam tulisan).

Apabila bahasa ini tidak digunakan dengan baik dan benar oleh pengguna atau penutur yang tingkat pendidikannya relatif rendah atau hanya bergaul dengan masyarakat setempat dan kurang bergaul dengan masyarakat Indonesia lainnya, bisa dimaklumi.

Sebaliknya, tentu sangat mengherankan, apabila bahasa ini tidak digunakan dengan baik dan benar justru oleh masyarakat terdidik.

Banyak cara bisa diterapkan untuk mengukur seberapa jauh bahasa ini digunakan secara baik dan benar. Pengukuran kemampuan berbahasa pada masyarakat terdidik dapat dilakukan dengan cara membaca dan memahami tulisannya yang berupa laporan tertulis, skripsi, tesis, atau disertasi.

Tulisan yang sesuai dengan pedoman baku bahasa serta alur logika tulisan yang mudah dipahami oleh pembaca menunjukkan bahwa penulisnya mampu menempatkan Bahasa Indonesia pada kedudukan yang pantas.

Apabila cara itu sulit dilakukan, cara lain yang lebih sederhana bisa diterapkan. Tanyakan kepada masyarakat terdidik apakah mereka lebih suka menggunakan bahasa asing daripada Bahasa Indonesia. Apabila mereka menjawab bahasa asing, sebaiknya anda berhenti mengajukan pertanyaan. Masyarakat terdidik ini sudah pasti tidak mencintai Bahasa Indonesia.

Apabila mereka menjawab Bahasa Indonesia, dalami jawaban itu. Tanyai lagi mereka. Apakah susunan kalimat (contoh) yang tertulis pada teks berjalan televisi “Diduga mata-mata, Norwegia mengusir diplomat Sudan” ini benar?

Apabila mereka menjawab salah, Anda berhenti mengajukan pertanyaan atau bisa juga mendalami lagi untuk mencari alasan mengapa mereka menjawab demikian. Apabila mereka menjawab benar, pasti ada yang tidak beres dengan jawaban ini.

Penulis mengidentifikasi empat faktor yang merusak Bahasa Indonesia. Semua faktor itu sejatinya mengarah pada penggunanya.

Pertama, pengguna merasa lebih bergengsi menggunakan kata asing daripada kata (Bahasa) Indonesia.

Coba simak acara televisi tentang pantauan lalu lintas di beberapa kota Indonesia oleh seorang brigadir wanita polisi. Sebutan NTMC (biasanya dibaca: en-te-em-si, singkatan dari National Traffic Management Centre) pasti digunakan, padahal PMLLN (Pusat Manajemen Lalu Lintas Nasional) -frase terjemahan yang cocok untuk mengindonesiakan NTMC- mudah dicerna oleh masyarakat.

Halaman
123
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved