Bahasa Indonesia (Sudah) Rusak?

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan persatuan. Semua orang Indonesia seharusnya bisa menggunakannya, baik secara lisan (dalam percakapan) maupun secara tertulis (dalam tulisan).

Kedua, pengguna tidak bisa atau tidak berani berinovasi menerjemahkan kata asing. SMS misalnya. Para pengguna seluler tidak asing dengan singkatan ini, karena hampir setiap hari ber-SMS ria dengan rekan atau kliennya. Namun, mereka tidak tahu kepanjangannya dalam Bahasa Indonesia, karena belum ada kepanjangan SMS dalam bahasa nasional. Yang mereka tahu, SMS adalah singkatan dari short message service.

Apabila kita konsisten dan mau belajar dari kepanjangan ATM, SMS sebenarnya bisa diindonesiakan jadi servis mewarta singkat. ATM (anjung tunai mandiri) merupakan pengindonesiaan dari automatic teller machine.

Kita seharusnya bangga dengan pengindonesiaan beberapa kata asing. Incumbent diindonesiakan menjadi petahana, upload menjadi unggah, download menjadi unduh, dan website menjadi laman.

Ketiga, pengguna merasa hebat menggunakan kata asing, walaupun tidak tahu makna atau penggunaan kata itu. Kata nominator sudah pasti salah, jika digunakan pada kalimat “Agnes Monica adalah salah satu nominator penyanyi terbaik”.

Untuk kalimat itu, kata yang benar adalah nominee. Nominator adalah orang yang menominasikan, sedangkan nominee adalah orang yang dinominasikan. Makna kata-kata itu serupa dengan trainer (orang yang melatih) dan trainee (orang yang dilatih) atau employer (majikan, orang yang memekerjakan orang lain) dan employee (orang yang dipekerjakan).

Keempat, pengguna memertukarkan subyek, ketika meringkas kata majemuk. Kalimat majemuk “Diduga mata-mata, Norwegia mengusir diplomat Sudan” sudah pasti bermakna salah. Mustahil kan, Norwegia diduga mata-mata dan Norwegia selanjutnya mengusir diplomat negara lain.

Yang pasti, Norwegia menduga diplomat negara lain sebagai mata-mata dan Norwegia selanjutnya mengusir diplomat ini.

Peringkasan kalimat majemuk memang dibenarkan, apalagi ketika diterapkan pada media cetak atau media elektronik yang memang menghemat ruang. Namun, peringkasan ini harus tetap sesuai dengan ketentuan bahwa peringkasan tidak boleh memertukarkan subyek. Bila subyek dipertukarkan, makna kalimat akan rancu dan salah pengertian pasti terjadi.

Masih banyak faktor yang merusak Bahasa Indonesia. Namun, karena sudah salah kaprah atau dibiarkan terjadi terus menerus, perusakan menjadi lumrah dan selanjutnya dianggap tidak salah atau bukan lagi kesalahan.

Pernyataan bahwa Bahasa Indonesia (sudah) rusak mungkin terlalu berlebihan. Namun, mengatasi salah kaprah menjadi keniscayaan.

Halaman
123
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved