Etiskah Tesis Diacak-acak

Tesis adalah karya tulis ilmiah (KTI) yang pada dasarnya merupakan laporan hasil penelitian (ilmiah) mahasiswa S2 dan menjadi salah satu syarat bagi mahasiswa tersebut untuk memperoleh gelar magister atau master.

Penulisannya di bawah bimbingan dosen-dosen berkompeten; dalam hal ini adalah dosen-dosen yang sesuai dengan bidang ilmunya dan berpendidikan S-3 --atau minimal S-2, apabila jumlah dosen berpendidikan S-3 tidak memadai.

Di Indonesia, prosedur standar yang harus dilalui oleh mahasiswa sebelum akhirnya draf (bakal tesis) disetujui menjadi tesis adalah sebagai berikut.

Mahasiswa memaparkan usulan penelitian melalui seminar, melakukan penelitian (mengumpulkan dan menganalisis data), menuliskan hasil penelitian dalam draf sesuai dengan pedoman penulisan ilmiah, memaparkan hasil penelitian melalui seminar, merevisi draf, dan akhirnya menghadapi dewan penguji (berkompeten) yang menguji kemampuan akademik dan draf mahasiswa tersebut.

Di beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada, prosedurnya sedikit beda. Yang diuji bukan mahasiswa, tetapi draf-nya. Jadi, draf dikirim ke dosen penguji yang dirahasiakan jati dirinya. Bila tidak sesuai dengan kaidah ilmiah atau tidak rasional, dosen ini berhak meminta mahasiswa --melalui program studi atau pembimbingnya-- merevisi secara menyeluruh draf dalam jangka waktu tertentu. Bila mahasiswa tidak bisa memenuhi permintaan ini, bersiaplah untuk pulang dengan tangan kosong dan tidak mendapat gelar magister.

Ketika draf sudah disetujui menjadi tesis --apalagi sudah disampul dengan rapi--, tidak begitu saja tesis bisa diubrak-abrik atau diacak-acak, apalagi oleh orang-orang yang tidak berhak.

Mengapa demikian?
Pertama, tesis tidak selalu merupakan syarat terakhir bagi penulisnya yang notabene mantan mahasiswa untuk memperoleh gelar magister. Beberapa perguruan tinggi (PT) bahkan meminta penulis untuk memodifikasi atau menyempurnakan tesisnya menjadi satu atau beberapa artikel. Selanjutnya, artikel dikirim ke jurnal ilmiah (terutama terakreditasi) yang kemudian akan menelaah artikel ini melalui beberapa tahapan, sebelum akhirnya dinyatakan layak diterbitkan dalam jurnal ilmiah tersebut.

Dengan kalimat lain, tesis memang merupakan KTI yang belum sempurna seratus persen.

Kenyataannya, sebagian besar tesis memang tidak dipublikasi. Tesis ini disimpan di perpustakaan atau disebarluaskan secara tidak lengkap melalui internet. Beberapa perpustakaan PT menerbitkan aturan bahwa tesis hanya boleh dibaca di perpustakaan, tidak boleh dipinjam atau dibawa ke luar dari perpustakaan, atau bahkan tidak boleh difotokopi.

Kedua, tesis adalah hak penulis, yang notabene mantan mahasiswa, tetapi prosesnya mulai dari penyusunan hingga penerbitan menyangkut banyak pihak.

Pihak yang bersangkutan dan sudah tentu bertanggung jawab dalam hal ini bukan hanya dosen pembimbing, melainkan juga ketua program studi, direktur pascasarjana, dan rektor sebagai pemimpin tertinggi PT. Dengan demikian, mengubrak-abrik tesis berarti melecehkan PT yang memfasilitasi tesis.

Halaman
12
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved