Jembatan Putus

Warga Bergelantungan di Jembatan Baringin

Mukmin (17) kaget. Tiba-tiba dia melihat percikan api diikuti suara benda besar terempas ke sungai.

Tayang:
Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU  - Mukmin (17) kaget. Tiba-tiba dia melihat percikan api diikuti suara benda besar terempas ke sungai. Hanya dalam hitungan detik, Mukmin terdorong hingga kakinya menghantam tiang kayu ulin. Dia pun terjatuh. Kakinya berdarah.

Pada saat itu pula, di kala kegelapan dini hari, Mukmin mendengar suara teriakan beberapa perempuan yang meminta tolong dari arah sungai. Namun, dia tidak mampu bergerak karena kakinya sulit digerakkan.

Mukmin adalah salah satu warga yang menjadi korban tidak langsung dari runtuhnya jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Baringin A dan Baringin B, Desa Margasari, Kecamatan Candilaras, Tapin, Selasa (1/1) dini hari.

Tali baja jembatan itu putus saat puluhan orang dan sejumlah sepeda motor melintasinya. Pengguna jembatan itu baru saja merayakan Tahun Baru 2013. Seorang tewas, satu orang belum diketahui nasibnya dan belasan orang luka-luka akibat kejadian tersebut.

“Saya baru beberapa langkah berjalan di jembatan itu. Namun, karena melihat berjejalnya orang di jembatan tersebut, saya membatalkan diri menyeberang lalu berdiri di ujung jembatan. Tiba-tiba beberapa detik kemudian, jembatan itu runtuh,” kata Mukmin kepada BPost.

Dia mengungkapkan, suasana sontak kacau balau. Semua panik. Teriakan minta tolong dan tangisan saling bersahutan. Untung saja, beberapa warga bertindak cepat. Mereka langsung menggunakan jukung untuk menolong korban yang berjatuhan dari jembatan.

Lain lagi dengan Rudi (26) yang secara langsung menjadi korban. Dia berada di posisi tengah jembatan ketika musibah terjadi. “Tiba-tiba jembatan oleng ke kiri dan langsung ambruk ke sungai. Saya sempat melihat beberapa orang bergelantungan saat jembatan itu miring. Namun mereka tidak bisa bertahan lama karena jembatan ambruk ke sungai,” kata dia.

Rudi mengaku, saat jembatan sepanjang sekitar 100 meter dan lebar dua meter itu terempas, juga terpental lalu tenggelam ke sungai. Untung saja, dia bisa berenang sehingga bisa lolos dari maut.

Menurut dia, saat ada 20 hingga 30 orang yang berada di jembatan. Di antara mereka mengendarai sepeda motor. “Saya sangat trauma. Tidak pernah saya bayangkan akan mengalami secara langsung peristiwa yang mengerikan ini. Benar-benar mirip di film,” ucap Rudi.

Menurut dia, musibah itu terjadi setelah warga merayakan acara tahun baru di lokasi yang berada tidak jauh dari jembatan itui. Selain pesta kembang api, acara itu dihibur gelaran musik dangdut.

Berdasar pantauan koran ini, seluruh bagian jembatan di Dusun  Baringin B ambruk. Tali bajanya juga putus. Sedangkan bagian jembatan di Dusun Baringin A, sebagian ambruk. Tali bajanya masih utuh.

Ketua Tagana (Taruna Siaga Bencana) Tapin, Syafro mengatakan saat kejadian ada sekitar 20 orang yang tercebur bersama jembatan. Sebanyak 18 orang bisa langsung diselamatkan dan menyelamatkan diri. Sedangkan Asriah (45) dan Masitah (15) diduga tenggelam dan terseret arus sungai.

Selang beberapa jam setelah kejadian, Asriah ditemukan tewas di dalam sungai, sekitar 10 meter dari jembatan. Sedangkan Masitah belum diketahui nasibnya. “Juga diselamatkan enam unit sepeda motor,” ujarnya.

Jenazah Asriah ditemukan oleh warga yang menggunakan jukung dan alat tradisional rawit --masyarakat setempat yang turut menbantu pencarian dengan menggunakan jukung.

Uniknya lagi penemuan mayat Asriah dengan menggunakan peralatan tradisional masyarakat setempat yang mereka beri nama Rawit yang memiliki duri bercabang dan pemberat. Alat itu disisirkan ke dalam sungai, hingga mengait pakaian Asriah.

Kepala Desa Baringin B, Ruslan mengatakan jembatan itu sudah berusia 17 tahun. Sebagai warga dusun, dia mengaku tidak pernah melihat adanya upaya pemeliharaan atau perawatan terhadap jembatan tersebut. Padahal, seiring usianya, banyak besi yang putus. Warga pun beberapa kali berinisiatif menyambungnya menggunakan las.

“Kami sudah tiga kali (2010, 2011, 2012) mengirim proposal ke Pemprov Kalsel agar jembatan segera diperbaiki, tetapi tidak ada tanggapan,” ucapnya.

Sejumlah warga juga menduga runtuhnya jembatan itu karena tidak ada perawatan sehingga tidak mampu menahan beban berat. Adapun penyebab utama adalah putusnya tali baja yang sudah koyak. (Banjarmasin Post Edisi Cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved