Breaking News:

Negeri Agraris Menuai Tangis

Sampai tahun 1970-an sebutan bahwa Indonesia merupakan negeri agraris sangat membanggakan. Mulai dari materi pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan

Sampai tahun 1970-an sebutan bahwa Indonesia merupakan negeri agraris sangat membanggakan. Mulai dari materi pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan formal, artikel ilmiah yang disajikan pada seminar, hingga naskah pidato yang disampaikan oleh pejabat negeri menyebut ini untuk menunjukkan bahwa betapa suburnya Indonesia atau betapa melimpahnya hasil tanaman pangannya. Tidak mengherankan, apabila penjajah berlomba menjadikan negeri ini kolonisasinya.

Tahun demi tahun sebutan negeri agraris meluntur, walaupun para petinggi negeri tetap membanggakannya. Negeri agraris berbalik membuat tangis. Bagaimana tidak?

Rakyat negeri menangis. Harga bawang merah dan bawang putih melangit. Rupanya kedua jenis bawang ini luput dari perhatian, karena petinggi negeri lebih sibuk dengan urusan politik daripada urusan rakyat.

Bukan kali ini saja hal itu terjadi. Sebelumnya rakyat juga menangis. Beras, tepung, atau bebuahan harus diimpor dari luar negeri. Minyak goreng susah dicari. Cabe tidak dapat dibeli. Gula berharga semakin tinggi. Daging sapi diembat politisi.

Ada apa dengan negeri ini? Itulah pertanyaan yang jawabannya harus segera digali.

Sekitar empat dekade lalu pemerintah berupaya menyeragamkan tanaman pertanian pangan (misalnya, padi) di seluruh negeri dan mengiming-imingi bantuan teknis kepada petani. Berbagai varitas padi produksi-tinggi dikembangkan. Lahan diolah dengan mesin bajak. Kesuburan tanah dipacu dengan pupuk anorganik. Hama dikendalikan dengan pestisida, penyakit dengan fungisida, dan gulma dengan herbisida. Tujuan utamanya adalah swasembada pangan.

Pada sisi lain, tanaman pangan yang memiliki keunggulan lokal justru diabaikan. Hotong misalnya. Tanaman pangan yang disukai para raja di Pulau Buru ini tidak dimasukkan dalam rencana pengembangan atau pembudidayaan, walaupun mampu tumbuh di tanah kering. Begitu juga yang terjadi pada tanaman lain yang sudah beradaptasi dengan lingkungan setempat, seperti sagu di Maluku, ubi di Papua, jagung di Madura, atau sorgum di Timor.

Hasil penyeragaman pangan memang menguntungkan. Swasembada pangan tercapai. Indonesia pun dianugerahi sebagai negara swasembada pangan oleh PBB.

Namun, apa yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan. Perlakuan terhadap tanaman justru menjadikan kesuburan tanah menurun, hama atau penyakit kebal, dan keseimbangan lingkungan terganggu. Pada tahun-tahun berikutnya panen tidak seperti yang diharapkan. Tanaman unggul lokal pun tidak dikenal.

Penyeragaman tanaman pertanian masih berlangsung hingga kini. Ketika karet memberi hasil, karet ditanam di setiap persil. Ketika sawit dianggap menguntungkan, sawit pun dikembangkan di setiap jenis lahan. Pendek kata, tidak ada waktu terlewat untuk mengisi lahan negeri ini dengan karet dan sawit.

Halaman
12
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved