Ustadz Harus Gaul?
JUMAT, 26 April 2013, pukul satu dini hari. Sepeda motor besar merek Kawasaki berkekuatan 650cc melesat cepat.
Tetapi tawaran kaum modernis itu lama-lama tidak memuaskan. Benturan nilai-nilai moral yang makin dahsyat di era global ini, membuat masyarakat kembali rindu pada otoritas ulama tradisional sebagai pegangan.
Namun sayang, demikian Kang Jalal, yang muncul kemudian bukan ulama sufi atau faqih, melainkan mubaligh pop alias ustadz gaul. Medialah yang menciptakannya.
Mubaligh pop, kata Kang Jajal, tidak tampil apa adanya, tetapi dalam citra-citra yang diciptakan media. Dakwahnya diatur oleh efek suara, tata letak dan visual media.
Kepandaiannya menghibur dan berakting lebih diutamakan dibanding kedalaman ilmunya. Hubungannya dengan jemaah, seperti hubungan artis dengan fansnya. Ia dibayar mahal. Pakaian, kendaraan dan rumahnya cenderung mewah.
Suatu hari di sebuah pesantren, saya menyitir teori Kang Jalal di atas. Seorang ustadz muda menanggapi. “Ustadz memang harus gaul. Gaul, singkatan dari gaya ulama,” katanya.
Kalau itu maksudnya, saya tentu setuju. Berdakwah melalui media dan tampil pop agar bisa dekat dengan anak muda, tidaklah tercela, selama sang ustadz tetap bergaya ulama: sopan, sederhana, rendah hati, jujur dan ikhlas.
Tapi, mungkinkah itu? Barangkali Uje adalah sosok yang demikian. (*)