SPBU Mulai Tutup Lebih Cepat
Belum diumumkannya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, ternyata juga merepotkan para pengecer. Mereka kesulitan membeli
Penyebabnya, bukan karena pelarangan atau pembatasan bagi pengecer, tetapi sering lebih cepatnya SPBU tutup. Alasannya, pasokan belum datang atau kosong sementara persediaan sudah habis.
"Sulit sekarang carinya. Di SPBU sering kosong. Biasanya beli dari pelangsir, tetapi sekarang tidak ada yang mengantar. Terpaksa saya beli sendiri, ternyata susah karena SPBU lebih cepat tutup," ucap seorang pengecer di Martapura, Banjar, Mahdi, Rabu (19/6).
Dia mengaku lebih senang membeli BBM jenis premium di SPBU di Banjarbaru. Pasalnya, pengawasannya tidak seketat di Banjar.
"Kalau di Banjarbaru, bawa jeriken tidak masalah. Jadi biasanya, sepulang dari pasar saya mampir ke SPBU. Isi penuh tangki dan satu jerigen," kata Mahdi yang menyebut harga eceran jika terjadi kenaikan, antara Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per liter.
Sejumlah pengelola SPBU di Banjar saat ditemui mengatakan mulai melakukan pengetatan. "Pembelian dibatasi, pelat nomor dicatat. Kalau ada yang double, saya minta petugas SPBU menegur," ucap Pengelola SPBU Km 17, Perni.
Dirinya mengaku belum ada gejolak berarti jelang kenaikan harga BBM bersubsidi ini. Pasokan dari Pertamina pun masih normal seperti biasa. "Satu tangki premium, dua tangki solar kapasitas 10 ribu liter per tangki," kata dia.
Hal serupa diungkapkan Pengelola SPBU Sungaiparing, Gusti Abdurahman. "Solar maksimal Rp 250 ribu. Premium untuk mobil maksimal Rp 100 ribu, sedang kendaraan roda dua Rp 20 ribu. Pembatasan ini untuk mengantisipasi aksi borong," ucapnya.
Berdasar pantauan di Banjarmasin, antrean sempat terjadi di SPBU Sabilal Muhtadin pada Selasa (18/6) malam. Meski demikian, antrean itu bisa diatasi oleh petugas SPBU.
Ketua Satgas BBM Kalsel, Heryozani pun mengatakan, tidak terjadi pembelian yang berlebihan (panic buying). "Ada dua tim yang mengawasi SPBU terutama di daerah pinggiran, Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura dan sebagian masuk anah Laut. Memang pada beberapa SPBU ada saja yang ingin membeli dalam jumlah banyak, tetapi ditegur polisi yang berjaga," katanya.
Pembeli BBM yang meminta jatah lebih umumnya terjadi di SPBU di pinggiran, seperti Jalan Adyaksa Banjarmasin dan Jalan Handil Bakti Barito Kuala. Bahkan, ada pembeli yang mencoba memaksa, namun karena ada polisi, petugas SPBU bisa menolaknya.
Meski hanya bisa pasrah, warga Pulau Marabatuan, Kotabaru, Junaidi mengatakjan nelayan bakal kian terbebani jika harga BBM naik. Pasalnya, harga solar bersubsidi juga bakal kian mahal. Bahkan mendekati harga industri.
“Padahal harga ikan yang dijual ke pengumpul tidak mengalami kenaikan. Belum lagi, harga sembako pasti juga ikut naik,” tegasnya.
Sementara Asisten Manajer Komunikasi Eksternal Pertamina Fuel Retail Marketing Region VI Kalimantan, Bambang Irianto menjamin pasokan tetap terkendali. "Suplai untuk seluruh SPBU, aman," katanya.(nic/lis/has/sah/dia)