Atus Masih Syok

Kondisi serupa terjadi di Kalsel. Salah satu guru yang terkena kebijakan pengembalian

Atus Masih Syok
net
Ilustrasi ujian sertifikasi

BANJARMASINPOST.CO.ID, Kondisi serupa terjadi di Kalsel. Salah satu guru yang terkena kebijakan pengembalian dana tunjangan sertifikasi adalah Halimatussadiyah. Guru SMAN 7 Banjarmasin itu harus mengembalikan tunjangan Januari hingga Maret 2013. Besarannya sekitar Rp 9 juta.

Kepala SMAN 7, Mundhofir mengungkapkan berdasar audit Itjen Kemendikbud, guru yang biasa dipanggil Atus itu tidak mengajar secara linier (satu mata pelajaran).

Dia mengajar sejarah dan kesenian agar bisa mencapai target mengajar selama 24 jam secara tatap muka.

“Bu Atus masih syok. Kami tidak menerima keputusan itu karena ada edaran baru juga dari Kemendikbud yang menyatakan pemenuhan 24 jam mengajar bisa dilakukan tanpa mengajar secara linier.  Kami masih mendiskusikan,” katanya, Jumat (19/8).

Di Banjar, Kepala Disdik Ruspan Noor mengungkapkan ada sekitar 80 guru yang terancam mengalami nasib serupa. Dia pun mengatakan pendataan dilakukan secara langsung oleh Kemendikbud secara online.

“Dari data itu bisa diketahui jumlah mengajar secara tatap muka. Bila ada tambahan mengajar hanya dihitung lembur dan mungkin ada dananya. Tetapi tidak bisa dimasukkan ke hitungan untuk jam mengajar. Agar mereka mencapai target jam mengajar, kami usulkan juga mengajar di sekolah lain,” ujar dia.

Sementara di Banjarbaru, tim sertifikasi Disdik H Edi Juwana Pribadi memastikan semua guru bersertifiksi telah mencapai target 24 jam mengajar, meskipun ada yang mengajar di dua sekolah. Justru yang terjadi saat ini adalah belum turunnya dana tunjangan sertifikasi bagi guru yang mengajar di sekolah umum dan kejuruan. “Penyebabnya, sistem aplikasi di ‘pusat’  yang belum membaca. Datanya belum tersambung,” tegas dia.

Di Balangan, ada lima guru yang dipastikan tidak menerima dana tunjangan sertifikasi karena mereka tidak memenuhi ketentuan jam mengajar. “Dana untuk triwulan pertama sudah cair tapi lima guru tak menerima karena secara otomatis tak bisa dicairkan. Mereka kekurangan jam mengajar. Kami upayakan pada tahun ajaran mendatang, mereka sudah bisa memenuhi,” ujar Staf Gutek Disdik Balangan Ahmad Rijali.

Sementara Kepala Disdik Tapin, H Juwaini justru mengungkapkan ada dua guru bersertifikasi yang dipotong dana tunjangannya karena meninggalkan tugas mengajar. Keduanya melakukan umrah. Bukan karena tidak mencapai target mengajar. ‘Yang memotong langsung oleh ‘pusat’. Saya tidak tahu besarannya,” ucap dia. (dia/ris/wid/wnd/him)

Editor: Edi Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved