Pemerintah Perlu Belajar dari Petani Sawit

Penolakan warga Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara atas rencana pembukaan perkebunan sawit menjadi

Oleh: Prof M Arief Soendjoto
Dosen Unlam

Penolakan warga Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara atas rencana pembukaan perkebunan sawit menjadi salah satu berita minggu ini. Penolakan yang sama sebetulnya juga pernah dilakukan oleh warga di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, walaupun beritanya kurang terkabar di media.

Alasan warga masuk akal. Perkebunan sawit berdampak negatif bagi kehidupan warga. Kestabilan ekosistem terganggu. Peternakan kerbau rawa dan sektor perikanan yang menjadi mata pencaharian warga terancam.

Warga ternyata lebih cerdas daripada pemerintah. Mereka menimbang dampak suatu kegiatan, karena berhadapan langsung dan sudah beradaptasi dengan alam lingkungannya. Wajar apabila muncul istilah kearifan lokal. Hal inilah yang kurang atau bahkan tidak dipunyai pemerintah yang lebih mengutamakan kekuasaan, walaupun sebetulnya diciptakan sebagai pelayan warga.

Kerbau rawa adalah tabungan. Hewan ini akan dimanfaatkan warga pada saat merayakan hari-hari besar keagamaan (seperti maulidan). Bila diterapkan pada kondisi kini, kerbau pula yang sebetulnya bisa diandalkan untuk mengatasi harga daging yang semakin mahal.

Pada sisi lain, sektor perikanan adalah tumpuan ketahanan pangan yang justru digalakkan pemerintah. Sektor ini mudah dikembangkan sebagai usaha kecil. Usaha kecil terbukti tahan pada saat Indonesia mengalami krisis ekonomi global. Lebih dari itu, perikanan adalah alat untuk bersilaturahim antar-warga. Hal ini tercermin pada acara manangguk, mahancau, atau mahalau iwak.

Coba simak alaman buruk pengelolaan sumber daya alam di negara yang katanya subur gemah ripah loh jinawi. Dahulu, Indonesia terkenal dengan hutannya. Hutan negara tercinta ini tergolong memiliki keragaman hidupan (biodiversitas) sangat tinggi di dunia, bersamaan dengan hutan negara Brazil dan Zaire.

Pada awal Orde Baru, pemerintah mengapling-kapling hutan dan memanen kayunya. Paradigma timber management -manajemen hutan sebagai penghasil kayu- mengemuka. Ratusan perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) bermunculan. Pabrik kayu lapis dan kayu gergajian didirikan hingga ke pelosok.

Hutan pun dibanggakan sebagai sebagai penghasil devisa, setelah minyak bumi. Muncul istilah emas hijau untuk hutan dan emas hitam untuk minyak bumi.

Apa yang terjadi setelah 40 atau 50 tahun kemudian? Hutan rusak. Kayu andalan, seperti meranti, keruing, kapur, atau ulin susah dicari. Tidak sedikit perusahaan HPH bangkrut. Mesin kayu lapis dan mesin kayu gergajian pun mangkrak menjadi besi tua.

Halaman
12
Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved