Kerajinan Tas Rotan Kapuas Dipasarkan ke Jawa
Pembuatan tas rotan buatan tangan dengan produksi terbatas dilakukan beberapa
Penulis: Jumadi | Editor: Edi Nugroho
BANJARMASINPOST.CO.ID, KUALAKAPUAS-Pembuatan tas rotan buatan tangan dengan produksi terbatas dilakukan beberapa pemuda putra dan putri. Dengan cermat dan hati-hati, mereka cekatan membuat berbagai jenis tas, Jumat (30/8/2013).
Lokasinya berada di rumah yang cukup sederhana, tepatnya di Jalan Kapuas Seberang I RT4, nomor 33, tepatnya di Hampatung Kualakapuas Kalteng.
Di depan rumah bertuliskan produksi Manggatang Dare Uwei.
Tas yang dibuat adalah tas dari bahan dasar tikar rotan, dilapisi dengan aksesoris kulit sintetis maupun kulit buaya.
Usaha yang dilakukan kebanyakan para pemuda dan pemudi itu banyak mendapat pesanan. Baik dari Palangkaraya (Kalteng) maupun dari Banjarmasin (Kalsel).
Bahkan ada beberapa pemesan dari Jawa.
Priskila, adalah salah satu pengrajin tas rotan. Wanita muda berkulit putih yang masih sendiri ini sejak tahun 2008 sudah mengeluti usaha kerajinan pembuatan tas rotan, saat dia bersama kedua orangtuanya di Tumbang Samba Katingan, Kabupaten Kasongan Kalteng.
Lantaran di daerah itu sangat sulit memasarkan hasil kerajinannya, maka baru pada bulan April 2013, Priskila bersama ibu dan ayahnya mencoba mengembangkan usahanya di Kualakapuas. Ternyata hasil kerajinannya mendapat sambutan hanggat dari konsumen di sana.
Kini usaha itu berada di bawah binaan TP PKK Kabupaten Kapuas dan di samping itu Priskila ternyata sebagai pemuda pelopor yang berhasil membuka lapangan pekerjaan. Saat ini ada lima pemuda yang ikut bergabung membuat kerajinan tas.
Dalam sehari, Priskila bisa membuat 3 buah tas berukuran besar. Harga tas yang dijual bervariasi, yang berukuran kecil Rp150 ribu dan yang besar Rp350 ribu.
Kasi Bidang Pembinaan Anak Remaja dan Pemuda, Disporabudpar Kabupaten Kapuas Yunda Nepriatri, SE mengatakan, sejak mereka mulai membuka usaha kerajinan di Kualakapuas, usaha ini langsung dibina dan di bawah binaan PKK Kabupaten Kapuas dan disporabudpar.
Ditambahkannya, usaha yang mereka lakukan juga sebagai pelopor dan dalam penilaian, mendapat juara satu dalam bidang pemuda pelopor tingkat kabupaten. .
Dirinya berharap dalam lomba tingkat provinsi nantinya mendapatkan juara.
Dalam lomba pemuda pelopor saat itu ada lima peserta, yakni Kecamatan Selat, Mentangai, Pulau Petak, Kapuas Murung maupun Kecamatan Basarang.
Ditanya kriteria penilaian pemuda peloporan, menurutnya antara lain, memiliki visi dan misi yang jelas dalam kepelaporan. Memiliki kemampuan berorganisasi yang pantas dijadikan teladan atau panutan dan mampu menerapkan kadernya, menerapkan sistem manajemen yang sehat, baik dan terbukti keberhasilannya, administrasi, keuangan dan pelaporan.