Ambisi Bocah Solo Tembus Kasta Tertinggi Sepak Bola Belanda
Bocah Solo ini mendapat undangan berlatih bersama tim U-13 ADO Den Haag, 18 Desember 2013 mendatang
BANJARMASINPOST.CO.ID, SOLO - YUSSA Nugraha, bocah berbakat asal Solo, Jateng ini berambisi menjadi anak Indonesia pertama yang mampu menembus kasta tertinggi persepakbolaan Belanda. Peluang itu ada. Dia mendapat undangan berlatih bersama tim U-13 ADO Den Haag, 18 Desember 2013 mendatang.
Kesempaan itu tentu tidak akan disia-siakan bocah yang memiliki gaya permainan seperti striker Liverpool, Luis Suarez. Yussa bertekad berlatih lebih giat agar bisa lolos seleksi lalu direkrut oleh ADO Den Haag, yang tim seniornya bermain di kasta tertinggi Liga Belanda, Eredivisie.
“Aku benar-benar bangga bisa menembus persaingan di level junior yang ketat. Apalagi aku orang Indonesia, Insya Allah bisa masuk tim inti dan membuat rekor anak Indonesia pertama yang menembus kasta tertinggi (persepakbolaan) Belanda,” kata dia, Rabu (4/12).
April 2013 lalu, Yussa juga pernah mendapat undangan serupa untuk mengikuti seleksi bersama 206 anak lainnya. Kala itu, Yussa belum beruntung. Dia mentok di 30 besar, padahal yang lolos hanya 25 orang. Namun, ADO tampaknya enggan melepas Yussa. Mereka menunjuk klub Divisi III, SVV Scheveningen, untuk merekrut bocah itu pada awal Juli 2013.
Keinginan Yussa bergabung dengan ADO kini mulai menemui titik terang. Pelatihnya di SVV Scheveningen, Pieter de Klerck memberitahu bahwa ADO kembali mengundangnya untuk berlatih bersama tim U-13 mereka.
Kabar tersebut tidak langsung disampaikan kepada Yussa. Pieter mengabari ayah Yussa, Edi Nugraha, melalui pesan singkat pada pagi hari. Edi dan istrinya kemudian sepakat tidak memberitahu putranya itu hingga makan malam.
“Aku baru diberitahu ketika makan malam. Aku senang sekali. Terus seperti biasa memeluk dan mencium mama. Aku senang sekali dan bersyukur, apalagi orangtuaku mendukung tanpa ada sponsor. Pastinya, tidak sedikit ongkos yang dikeluarkan untuk aku menekuni sepak bola,” kata Yussa yang ayahnya seorang fotografer sementara ibunya bekerja di restoran Belanda.
Dua pekan lagi, Yussa akan mulai berlatih bersama ADO. “Mereka tertarik melihat gocekan bolaku. Ternyata, mereka lewat tim pemandu bakatnya, sudah lama memantau aku. Aku senang sekali, itu keinginan yang selalu aku bawa dalam doa, bisa tembus klub divisi tertinggi Belanda,” ucapnya.
Bakat besar Yussa memang mulai terendus pemandu bakat sejumlah klub Belanda.
Pemandu bakat Sparta Rotterdam, ternyata juga memantau bakat Yussa. Mereka tertarik merekrut Yussa, namun kalah bersaing dengan ADO Pemandu bakat Sparta mengungkapkan kekagumannya kepada pelatih de Klerck. “Orang dari Sparta bilang ke pelatihku, kalau gaya mainku seperti Suarez,” ujar Yussa.
Yussa meninggalkan Nusukan, Solo, Jawa Tengah, ketika masih duduk di bangku kelas dua SD. Yussa diboyong kedua orangtuanya, Edi dan Indra Lieu, hijrah ke Belanda.
Di Belanda, Yussa tekun berlatih sepak bola di klub-klub lokal demi mewujudkan mimpinya menjadi pesepak bola besar.