Semangat Mereka Terhalang Arus Deras
Mereka tidak pernah malas berangkat ke sekolah, meski harus menyeberang menggunakan rakit bambu
Penulis: Hanani | Editor: Halmien
BANJARMASINPOST.CO.ID - AMBRUKNYA jembatan gantung yang menghubungkan Desa Labuhan Seberang dan Labuhan, Batangalai Selatan, HST, tidak membuat semangat murid-murid sekolah dasr (SD) dari desa tersebut, luntur.
Mereka tidak pernah malas berangkat ke sekolah, meski harus menyeberang menggunakan rakit bambu (lanting) yang dikendalikan menggunakan tali yang terbentang dari dua sisi sungai. Murid-murid baru tidak ke sekolah apabila arus sungai deras. Meski demikian, mereka dan warga desa sangat berharap pemerintah segera membangunkan kembali jembatan gantung tersebut.
“Kami tak pernah bolos. Teman-teman saya juga tak pernah malas sekolah, walaupun hampir semuanya pernah tercebur saat naik lanting. Saya sendiri lupa berapa kali terceburnya,” kata murid kelas VI, Aswin, Jumat (31/1).
Tracy, yang juga duduk di kelas VI mengatakan hal serupa.“Kalaupun tidak sekolah, karena arusnya deras dan dilarang orangtua karena takut hanyut,” ucap dia.
Seperti diwartakan BPost, orangtua mereka tidak bisa mengantar menyeberangi sungai karena harus berladang. Kalaupun hendak mengantar menggunakan sepeda motor, harus menyusuri jalan memutar sejauh tujuh kilometer.
“Kami memaklumi jika ada murid yang tidak bisa masuk sekolah. Kami yakin itu bukan karena mereka malas tetapi karena kondisi yang ada. Kami selalu sarankan, jika tidak bisa ke sekolah, tetap belajar di rumah,”kata seorang guru SDN Labuhan, Rosita.
Masalah lain dialami warga. Ambruknya jembatan juga mengakibatkan kesulitan menuju sawah dan ladang. Pasalnya, kemarin, ketinggian air sungai bertambah dan arus juga menjadi deras.
Selama ini mereka, terutama kaum perempuan lansia (lanjut usia), juga menggunakan rakit bila hendak ke sawah dan ladang.
Untuk mengisi waktu, berdasar pantauan koran ini, kemarin, mereka duduk bergerombol mengelilingi nyiru. Para perempuan berusia 50 sampai 70 tahunan itu bercakap-cakap sembari bermain kartu domino.
Sementara warga yang masih berusia muda dan para bocah tetap pergi ke sawah menggunakan sepeda motor, meski harus menempuh dengan medan cukup berat hingag sejauh 14 kilometer. “Sawah saya ada di Desa Ambitu, sekitar 14 kilometer jiak menggunakan jalan memutar. Padahal jika lewat jembatan itu hanya dua kilometer, bisa berjalan kaki saja,” ucap dia.
Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) HST Ahmad Zaid mengaku sedang mengupayakan agar pembangunan jembatan itu bisa ditangani secepatnya melalui dana tanggap darurat dari pos Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Anggaran dana penanggulangan bencana atau tanggap darurat di pos badan baru tersebut, menurut informasi sebesar Rp 2.051.000.000 untuk tahun ini. Namun, dana tersebut lebih difokuskan penggunaannya untuk korban bencana.
“Kami koordinasikan dulu apakah bisa dibangun menggunakan dana tersebut,” katanya, beberapa hari lalu.
Jika dana tersebut bisa digunakan, Dinas PU akan membantu mendesain jembatannya. Pasalnya, berdasarkan hasil pantauan, jembatan tersebut harus dibangun baru. Tidak bisa lagi sebatas direhabilitasi. Untuk membangunnya, diperlukan biaya sekitar Rp 500 juta.
“Kalau membangun tidak lagi menggunakan fondasi tiang kayu, tapi baja agar lebih kuat,” atanya.
Upaya lain mempercepat pembangunan, menurut Zaid, adalah mengajukannya pada APBD Perubahan 2014. Kalau tidak, baru bisa terakomodasi pada APBD 2015 mendatang. Itu artinya, warga setempat masih lama menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai. (han)