News Analysis

Jangan Terlena

UJIAN Nasional (UN) tidak bisa dijadikan gambaran kemampuan siswa sesungguhnya. Karena pelaksanaan UN sudah cacat, tidak sempurna.

Penulis: Restudia | Editor: Ahmad Rizky Abdul Gani

Sutarto Hadi
Pengamat Pendidikan

UJIAN Nasional (UN) tidak bisa dijadikan gambaran kemampuan siswa sesungguhnya. Karena pelaksanaan UN sudah cacat, tidak sempurna. Banyak bukti yang diekspose media.

Seperti salah satu kepala sekolah di Lamongan, Jatim, yang membocorkan kunci jawaban soal UN. Artinya, indikasi terjadinya kecurangan dimana-mana. Tidak murni lagi menggambarkan kemampuan siswa.

Tes sesungguhnya pasti di bawah nilai UN. Bisa dilihat dari nilai tryout yang hanya lulus lima persen siswa. Kemudian dalam waktu satu bulan, bisa berbalik. Diibaratkan lulus 95 persen dan tidak lulus lima persen.

Dalam logika, hal tersebut merupakan hal yang tidak mungkin terjadi. Perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap UN. Bukan hanya mengenai UN, tetapi sekolah, guru, Dinas Pendidikan. Jangan sampai terlena oleh UN.

Pembuktian bisa terlihat ketika siswa jebolan UN tak mampu menembus perguruan tinggi seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (UNDIP). Hanya segelintir orang yang bisa lolos.

Apalagi, jika dibandingkan dengan sumber daya manusia (SDM) dari luar negeri. Indonesia jauh tertinggal. Hanya bisa menjadi buruh di negeri sendiri. Posisi tinggi tetap dipegang oleh SDM dari luar negeri.

UN sudah seharusnya bukan sebagai penentu kelulusan. UN seharusnya hanya digunakan untuk pemetaan atau seperti survei. Sejauh mana kemampuan dari siswa, mata pelajaran apa yang rendah. Baru kemudian diperbaiki, terus berlanjut setiap tahun. Hingga dapat memperbaiki dengan maksimal.

Sementara kelulusan, biarkan pihak sekolah yang berwenang. Dengan begitu, tak akan ada kecurangan. Nilai yang didapat pun murni menggambarkan kemampuan siswa.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved