Rusaknya Topeng Neymar
MARIA Andrade dan dua rekannya hanya bisa termenung. Sembari duduk terpekur, kepalanya selalu tertunduk.
BANJARMASINPOST.CO.ID - MARIA Andrade dan dua rekannya hanya bisa termenung. Sembari duduk terpekur, kepalanya selalu tertunduk. Ia sesekali mengusap linangan air mata yang membasahi pipinya dengan bendera Brasil.
Bendera itu tak lagi dikibarkan seperti sesaat sebelum masuk ke stadion Mineirao dan sebelum wasit Marco Rodríguez meniup peluit tanda pertandingan Tim Samba kontra Jerman dimulai. Ia, seperti halnya lebih dari 200 juta penduduk Brasil, serasa terkena palu godam raksasa.
Padahal, sebelumnya mahasiswi berusia 20 tahun ini yakin, ‘angin surga’ yang akan dirasakannya begitu selesai laga semifinal Piala Dunia (PD) 2014, dini hari kemarin. Sama seperti puluhan ribu pendukung tuan rumah, poster bergambar Neymar ada di genggaman tangannya. Sayang, semua itu tak menjadi kenyataan. .
“Bukan lagi sekadar terjerembab, tapi benar-benar tersungkur tak berdaya. Tapi ini benar-benar menyesakkan. Kami hancur lebur tak berbentuk lagi. Entah apa yang harus kami ceritakan nanti pada generasi masa depan. Para pemain seperti tak memiliki semangat. Spirit ala Neymar tak membekas, dan langsung hilang begitu saja,” kata Maria, yang datang jauh dari Rio de Janeiro.
Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi cetak Kamis (10/7/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id