Gaet Pasangan Lesbian Hingga ke Sekolah-sekolah
cinta terlarang itu berawal ketika dirinya mengonfirmasi permintaan pertemanan di jejaring sosial Facebook dari seorang perempuan
BANJARMASINPOST.CO.ID, MANADO - Kewaspadaan orangtua terhadap pergaulan anak remaja mereka pantas untuk lebih ditingkatkan, jika melihat temuan tentang kehidupan para pecinta sesama jenis (lesbian), khususnya di Manado.
Berdasarkan penelusuran Kompas.com di Manado, wanita penyuka sesama jenis itu "bergerilya" ke sekolah-sekolah untuk mencari 'mangsa'. Salah satu pelaku lesbian, Cici (20) mengaku mengenal cinta sesama jenis sejak masih berusia 13 tahun.
"Buchy saya waktu itu lebih tua dari saya," kata Cici, Minggu (21/9/2014) kemarin.
Buchy merupakan istilah pasangan lesbian yang bertindak seperti laki-laki dalam pasangan normal. Sementara itu, famme adalah peran wanita dalam hubungan tersebut.
Cici mengaku diajak menjadi famme, dan berlanjut hingga dia kini telah bekerja. Kenyataan itu juga dibenarkan sejumlah anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ditemui Kompas.com.
Mereka tanpa malu-malu mengungkapkan kalau mereka pasangan lesbian. "Malas dengan laki-laki, banyak maunya, kalau dengan perempuan terasa nyaman," ujar seorang siswi SMP swasta di Manado yang tidak mau menyebutkan namanya.
Dia menceritakan, cinta terlarang itu berawal ketika dirinya mengonfirmasi permintaan pertemanan di jejaring sosial Facebook dari seorang perempuan. Selang dua bulan setelah berkenalan, teman wanitanya itu lalu menyatakan perasaan cinta.
"Awalnya saya merasa aneh, kenapa perempuan yang bilang sayang sama saya. Tapi lama-lama jadi nyaman juga dan saya bilang iya, sayang juga sama dia," jelasnya.
Dari sekadar chatting di Facebook, hubungan mereka berlanjut hingga pertemuan secara fisik. Dia mengaku saat ini susah lepas dari praktik cinta yang menyimpang itu. "Takut juga ketahuan sama orangtua dan keluarga, tapi mau bagaimana saya terlanjur sayang sama dia," ujar dia.
Sama halnya dengan Cici, beberapa pelaku lesbian juga mengakui sulit keluar dari hubungan tersebut. Cici mengakui kalau buchy-nya saat ini merupakan pasangan yang kedua. "Yang pertama jalan empat tahun dan yang ini sudah mau tiga tahun, saya merasa nyaman saja dengan perempuan," aku Cici.
Berdasarkan pengamatan Kompas.com, praktik lesbian di Manado memang sudah menggejala sejak beberapa tahun belakangan. Para pelaku lesbian ini bahkan mempunyai komunitas sendiri. Tak jarang mereka berani mengekspresikan hubungan yang menyimpang itu di depan umum.
Menanggapi fenomena ini Pengamat Sosial dan Kemasyarakatan di Sulawesi Utara, Dirno Kaghoo mengatakan, salah satu pendorong tumbuhnya perilaku menyimpang itu karena kebutuhan akan lifestyle.
"Ada dorongan untuk mengikuti gaya hidup yang tidak disaring. Selain itu kontrol orangtua dan keluarga yang lemah terhadap pergaulan anak juga menjadi penyebab," kata Dirno.
Dia juga berasumsi tidak siapnya remaja menghadapi tekanan hidup yang kuat sehingga mengalami stres dan mudah terjerumus ke situasi seperti lesbian tersebut. "Perkembangan teknologi komunikasi ikut juga memberi sumbangan terhadap perilaku itu," tandas Dirno.
Yang mencegangkan, dari beberapa hasil penelusuran ini didapati fakta, buchy menjadikan modus menggaet pasangan lesbiannya untuk dijadikan sebagai perempuan seks komersial (PSK). Mereka membujuk famme-nya untuk menjajakan diri ke pria hidung belang, dengan alasan demi memenuhi kebutuhan hubungan mereka.
"Buchy sengaja menggaet pasangan yang lebih muda karena hal itu bisa ditawarkan dengan harga yang lebih tinggi kepada pelanggan. Tidak hanya berusia muda, famme rata-rata juga berparas cantik," aku Cici.