Jembatan Bisa Ambrol
Kekeringan yang juga terjadi di Kecamatan Aluhaluh, Banjar, memaksa mayoritas warganya membeli air bersih untuk kebutuhan konsumsi
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Ahmad Rizky Abdul Gani
BANJARMASINPOST.CO.ID,MARTAPURA - Kekeringan yang juga terjadi di Kecamatan Aluhaluh, Banjar, memaksa mayoritas warganya membeli air bersih untuk kebutuhan konsumsi. Kondisi itu tentu sangat membebani karena rata-rata warganya berasal dari kalangan menengah ke bawah.
“Berat sekali. Kalau beli (air bersih) sendiri menggunakan kelotok ke Banjarmasin, memerlukan 20 liter untuk bolak-balik. Satu liter solar sudah Rp 9 ribu. Bisa bangkrut kami,” ucap Pembakal Desa Podok, Adhani, Minggu (5/10/2014).
Sementara bila membeli air yang dijual pengecer –juga menggunakan kelotok– mereka harus membayar Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu untuk satu jeriken berkapasitas 20 liter.
“Kalau begini terus bagaimana. Hasil dari sawah juga turun. Kekeringan ini sangat menyengsarakan kami,” kata dia.
Kondisi serupa terjadi di Desa Pulantan. Bahkan, sang Pembakal Syarkawi mengatakan warganya menggunakan air yang terasa asin untuk menyiram hewan yang sudah disembelih saat Iduladha. Dan untuk membersihkannya, mereka terpaksa menggunakan air bersih yang didapatkan melalui cara membeli.
Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi cetak Senin (6/10/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id