Ditinggal Mati Sang Belahan Jiwa, Kakek Ini Patah Hati hingga Wafat

Pada tahun 2008 silam, pasangan Hans dan Josie Schaffer sempat menjadi berita utama karena memiliki lebih kurang

Ditinggal Mati Sang Belahan Jiwa, Kakek Ini Patah Hati hingga Wafat
dailymail
Hans Schaffer (92) wafat, setelah tiga hari ditinggal oleh sang istri, Josie Schaffer (83) untuk selamanya karena mengidap infeksi dada dan dementia. 

BANJARMASINPOST.CO.ID – Pada tahun 2008 silam, pasangan Hans dan Josie Schaffer sempat menjadi berita utama karena memiliki lebih kurang 11 anak dan 130 cucu. Jumlah anggota keluarga sefantastis itu langsung membuat mereka memecahkan rekor sebagai pasangan dengan cucu serta cicit terbanyak di dunia.

Menurut salah satu anak lelaki Schaffer, Jonathan Schaffer, kali terakhir mereka menghitung anggota keluarga langsung ini mencapai 140 yang tersebar di Inggris, Australia, dan Amerika.

Namun malang, akhir pekan lalu tersiar kabar bahwa Hans Schaffer (92) wafat,setelah tiga hari ditinggal oleh sang istri, Josie Schaffer (83) untuk selamanya karena mengidap infeksi dada dan dementia.

Jonathan mengatakan bahwa saat ibunya meninggal, sang ayah berbaring sedih di sebelah jasad istrinya dan tak henti mengucapkan salam perpisahan. Sang ayah berbisik bahwa dia tak lagi mau berjuang melawan kanker perut yang telah ia derita selama tiga tahun.

Akhirnya, lebih kurang 72 jam atau tiga hari, Hans pun menyusul sang istri. Seluruh anak, cucu, dan cicitnya sangat bersedih sekaligus terharu melihat kepergiaan orangtua mereka yang sangat mengiris hati dan perasaan ini.

Seluruh keluarga memperikirakan Hans meninggal karena patah hati ditinggal oleh Josie, cinta pertama dan terakhirnya.

Hans dan Josie yang selama masa hidupnya tinggal di daerah Benford, Inggris, sudah bersama semenjak perang dunia ke-2.

Saat itu, Hans merupakan seorang tahanan perang di kamp Worcestershire. Lalu, Josie yang masih berusia 14 tahun tak sengaja bertemu Hans saat sepedanya rusak di luar kamp. Melihat Josie yang tampak bingung dengan sepedanya, Hans pun langsung menolong dan selanjutnya cinta pun bersemi di antara mereka.

Kemudian, pada tahun 1947, Hans dibebaskan dari kamp, dan tanpa pikir panjang langsung segera menikahi Josie. Mereka memiliki anak pertama di tahun 1948, kemudian pindah ke Swindon, Wilts, Inggris.

Mengenai kisah cinta orangtuanya yang manis dan mengharukan, Jonathkan kembali berujar bahwa orangtuanya adalah pasangan jiwa yang memang ditakdirkan bersama.

"Mereka tak terpisahkan,” ucapnya.

"Waktu terlama mereka dipisahkan adalah tiga minggu sebelum mereka akhirnya meninggal. Mereka berada pada ruang tidur yang berbeda di rumah. Mereka membuat kami berjanji untuk membuat mereka tetap bersama. Jadi, sekarang kami menepati janji kami. Aku tahu mereka dapat merasakan kehadiran satu sama lain, meskipun dipisahkan oleh dinding. Ketika ibu meninggal, ayah sangat sakit. Namun kami mengerti kondisinya, maka dari itu kami meletakkan jasad ibu di ranjang, agar ayah tetap dapat berbaring bersama. Ia mengucapkan salam perpisahannya, dan kita semua dapat melihat kesedihan di matanya, sungguh sangat menggetarkan hati," urainya.
 

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved